Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas..Obat Anestesi Tertukar Pembeku Darah, Ancaman Kematian Masif

Komisi IX DPR memastikan adanya risiko kematian yang sangat masif akibat peredaran obat anestesi Buvanest Spinal PT Kalbe Farma Tbk yang tertukar dengan serum pembeku darah.
Ashari Purwo Adi N
Ashari Purwo Adi N - Bisnis.com 20 Februari 2015  |  16:34 WIB
ilustrasi
ilustrasi

Kabar24.com, JAKARTA — Komisi IX DPR memastikan adanya risiko kematian yang sangat masif akibat peredaran obat anestesi Buvanest Spinal PT Kalbe Farma Tbk yang tertukar dengan serum pembeku darah.

“Kami yakin, peredaran obat anestesi Buvanest Spinal bukan hanya di RS siloam saja. Karena itu, kami meminta kepada seluruh RS dan dokter untuk berhati-hati menggunakan Buvanest kepada pasien,” kata Amelia Anggraini, anggota Komisi IX DPR saat dihubungi Bisnis, Jumat (20/2).

Dalam keterangan yang dihimpun panitia kerja Komisi IX, paparnya, obat anestesi Buvanest Spinal tertukar dengan cairan pembeku darah.

“Sesuai dengan keterangan keluarga pasien, penyuntikan Buvanest tidak berdampak seperti layaknya obat anestesi atau bius. Malah gatal-gatal lalu pasien meninggal. pasalnya, isinya tertukar dengan serum pembeku darah. Labelnya Buvanest, tapi isinya serum pembeku darah," ujarnya.

Saat ini, DPR telah menggandeng tim khusus dari pemerintah untuk mendalami tertukarnya anestesi dengan cairan pengental darah itu.

“Saat ini kita sedang intensif mengerjakan itu. BPOM dan kementerian kesehatan juga sudah turun.”

Sebelumnya, pemberian obat anestesi Buvanest Spinal, yang sebenarnya merupakan obat bius,  ternyata isinya asam traneksamat yang bekerja mengurangi pendarahan, dan menyebabkan kematian dua pasien di RS Siloam, seperti laporan yang diterima Kementerian Kesehatan.

Menurut Kepala BPOM Roy Sparringa, pihaknya mendapat informasi Sabtu pagi (14/2), dan langsung menindaklanjuti dengan mengirimkan tim audit investigasi di Rumah Sakit Siloam.

Pada 15-16 Februari, lanjutnya, BPOM telah melakukan pemeriksaan terkait bagaimana pemenuhan cara membuatan obat yang baik, dan pengawasan pascapemasaran terhadap produsen produk Buvanest Spinal ini yakni PT Kalbe Farma, serta jalur besar distribusinya yakni PT Enseval Putera Megatrading Tbk.

Selain itu, ia mengatakan dalam rangka kehati-hatian BPOM telah mengirimkan laporan surat peringatan kepada Menteri Kesehatan terkait produksi PT Kalbe Farma dan juga terkait tertukarnya injeksi asam Tranexamat.

BPOM, lanjutnya, juga telah mengirimkan surat peringatan kepada Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dengan tembusan kepada Menteri Kesehatan dan Perhimpunan Dokter Anestesi dan Intensivis Indonesia (Perdatin) untuk tidak menggunakan injeksi Buvanest Spinal 0,5 persen heavy dari PT Kalbe Farma sampai investigasi yang dilakukan BPOM selesai.

Surat peringatan juga telah dikirimkan ke Persi dengan tembusan Menteri Kesehatan dan PB Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) untuk tidak menggunakan injeksi asam traneksamat kemasan dus 10 ampul masing-masing lima mili liter (mm) pada nomor batch 629668 dan 630025 dari industri farmasi PT Hexpharm Jaya Laboratories yang diproduksi PT Kalbe Farma sampai pemeriksaan BPOM selesai.

Surat peringatan untuk kehati-hatian juga dikirimkan ke pimpinan apoteker penanggung jawab industri farmasi PT Kalbe Farma untuk melakukan penarikan seluruh batch injeksi Buvanest Spinal 0,5 persen heavy.

Surat yang sama juga dikirimkan kepada pimpinan apoteker penanggung jawab industri farmasi PT Hexpharm Jaya Laboratories untuk melakukan penarikan pada dua batch injeksi asam traneksamat kemasan dus 10 ampul masing-masing lima mili liter (mm) pada nomor batch 629668 dan 630025.

"Kami kirimkan surat peringatan juga kepada seluruh Balai Besar BPOM seluruh Indonesia untuk lakukan verifikasi dan monitoring pelaksanaan penarikan injeksi Buvanest Spinal 0,5 persen heavy dan injeksi asam traneksamat kemasan dus 10 ampul masing-masing lima mili liter (mm)," ujar Roy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

siloam Buvanest Spinal
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top