Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pembatasan Solar Bersubsidi: Produksi Ikan Tangkap Indramayu Turun

Pembatasan kuota pasokan solar subsidi yang dilakukan pemerintah sepanjang Agustus-Oktober 2014 menghambat produksi ikan tangkap di Kabupaten Indramayu Jawa Barat.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 26 November 2014  |  14:48 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, INDRAMAYU -- Pembatasan kuota pasokan solar subsidi yang dilakukan pemerintah sepanjang Agustus-Oktober 2014 menghambat produksi ikan tangkap di Kabupaten Indramayu Jawa Barat.

Meski belum direkapitulasi secara menyeluruh, hasil laporan sejumlah tempat pelelangan ikan di Indramayu menunjukan penurunan hasil tangkapan nelayan.

Kabid Perencanaan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Moh. Sam'un mengatakan selama periode tersebut hanya sekitar 80%-85% kebutuhan solar nelayan yang bisa terpenuhi.

Dia menuturkan akibatnya daya jelajah nelayan berkurang dan hasil tangkapannya ikut menurun, bahkan ada yang tidak bisa melaut karena tidak dapat solar.

"Pengurangan pasokan solar cukup menekan para nelayan khususnya di Kabupaten Indramayu," katanya kepada Bisnis, Selasa (26/11/2014).

Sam'un mengungkapkan untuk produksi ikan tangkap di Kabupaten Indramayu pada 2013 lalu sebanyak 128.548 ton dan total produksi hasil perikanan sebanyak 376.598 ton.

"Tahun lalu, produksi ikan tangkap berada di posisi kedua setelah produksi ikan tambak [168.962 ton]," ujarnya.

Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Jawa Barat menargetkan produksi ikan budi daya dan tangkap sepanjang 2014 mencapai 1,1 juta ton.

“Tahun ini tidak ada hambatan, terutama perikanan menyangkut kepada cuaca. Kemudian juga tidak ada penyakit di darat, serta di laut gelombangnya cukup bersahabat sehingga nelayan bisa mencari ikan,” kata Kepala Diskanlut Jabar Jafar Ismail.

Namun demikian, ujarnya, eksplorasi potensi perikanan dan kelautan hingga saat ini belum tergali secara maksimal.

Salah satu penyebabnya, nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan masih terbatas, area yang dipergunakannya banyak terfokus pada area sekitar pantai.

“Kami terus membina para nelayan agar mereka terus mengeksplorasi ikan guna mencapai produksi yang maksimal,” ujarnya.

Secara terpisah, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Bandung Barat menargetkan mampu memproduksi 5 juta benih ikan air tawar.

Untuk itu, dalam waktu dekat pihaknya akan membangun balai benih atau pusat pembibitan benih ikan di Desa Cisomang, Kecamatan Cikalongwetan.

Kepala Disnakan Kabupaten Bandung Barat Adiyoto mengakui, jumlah tersebut masih belum memenuhi permintaan benih ikan per tahunnya yang mencapai sekitar 1 miliar.

"Untuk menutupi kekurangan benih, petani mendatangkan benih dari Kabupaten Bandung, Subang dan Cianjur," kata Adiyoto.

Sisanya, para petani ikan yang mayoritas berada di Cirata dan Saguling mengandalkan pasokan benih ikan dari para pembenih ikan lokal yang diproduksi oleh sekitar 136 unit pembenihan rakyat (UPR).

Ia menyebut, 136 UPR tersebut mampu menghasilkan 100 juta benih ikan per tahun.

Sejauh ini, KBB merupakan salah satu pemain penting karena mampu menjadi salah satu pemasok ikan air tawar terbesar terutama di Jabar dan DKI Jakarta.

Ikan yang dihasilkan di antaranya ikan mas, nila dan patin. Sehingga tak salah apabila Bandung Barat mulai meneguhkan diri sebagai kota ikan.

"Produksi ikan air tawar kita mencapai 50-60 ton ikan konsumsi per harinya yang dihasilkan Waduk Saguling dan Cirata," ujarnya. (Maman Abdurahman/Hedi Ardhia)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

solar bersubsidi kuota solar
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top