Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

WNI DIBUNUH DI HONG KONG: Sumarti Ningsih Tidak Berstatus TKI

Kementerian Ketenagakerjaan melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong serta BNP2TKI dalam mengusut kasus mutilasi terhadap Sumartiningsih di Hong Kong beberapa waktu lalu.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 04 November 2014  |  18:38 WIB
WNI DIBUNUH DI HONG KONG: Sumarti Ningsih Tidak Berstatus TKI
Bankir Rurik George Caton Jutting pelaku pembunuhan WNI di Hong Kong. - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan melakukan koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong serta BNP2TKI dalam mengusut kasus mutilasi terhadap Sumartiningsih di Hong Kong beberapa waktu lalu.

Sumarti Ningsih, warga negara Indonesia asal Cilacap, Jawa Tengah menjadi korban mutilasi di Hong Kong akhir bulan lalu. Perempuan malang ini adalah bekas tenaga kerja Indonesia di negara tersebut.

"Kami terus berkoordinasi dengan pihak KJRI, BNP2TKI, Imigrasi dan Kemlu untuk mengungkapkan lebih lanjut masalah Sumarti Ningsih," kata Dirjen Binapenta Kemenaker Reyna Usman, Selasa (4/11/2014).

Sumarti Ningsih memang pernah menjadi TKI pada 2011-2013. Namun, saat pembunuhan terjadi, Sumarti Ningsih tidak berstatus sebagai TKI, melainkan sebagai seorang wisatawan.

"Kita akan terus pantau dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk antarpemerintah untuk membantu pihak kepolisian setempat yang masih melakukan investigasi mendalam," ujar Reyna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hong kong PEMBUNUHAN WNI DI HONG KONG
Editor : Sepudin Zuhri
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top