Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasok Kurang, Harga Cengkih di Sulut Terus Naik

Harga cengkih di Sulawesi Utara (Sulut) terus membaik.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 15 Oktober 2014  |  16:56 WIB

Bisnis.com, MANADO—Harga cengkih di Sulawesi Utara (Sulut) terus membaik.

Setelah sempat menyentuh titik terendah Rp130.000 per kg pada akhir bulan, harga komoditas unggulan daerah tersebut mencapai Rp135.500 per kg pada pekan kedua Oktober 2014.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, Hanny Wajong, mengatakan terus naiknya harga cengkih disebabkan kurangnya pasokan di pasar, baik pada tingkat pengumpul maupun pedagang besar.

“Meskipun banyak yang menjual, persediaannya tetap sedikit. Komoditas ini tetap dicari pedagang dan membuat harganya terus naik,” katanya, Rabu (15/10).

Menurutnya, Disperindag optimistis harga cengkih akan semakin membaik menjelang akhir tahun. Sebagai informasi, harga cengkih sempat menyentuh titik tertinggi Rp153.000 per kg pada Juli lalu.

Namun, harganya berangsur turun pada Agustus lalu, bahkan sempat menyentuh Rp130.000 per kg pada akhir September.

Menurutnya, harga cengkih yang cukup baik ini diharapkan memberikan manfaat dan nilai tambah yang lebih bagi petani, untuk mengembangkan pertanian dan usaha perkebunannya.

Pemerintah setempat akan terus memantau dan mengawasi pergerakan harga komoditas unggulan itu dan menyampaikannya kepada petani.

Kepala Disperindag Sulut Olvie Atteng mengatakan komoditas cengkih bukan barang yang diawasi seperti beras. Dengan demikian, mekanisme pasar akan terjadi.

“Jika stok banyak, maka otomatis harga turun. Begitu pula sebaliknya, jika stok kurang, pasti harganya mahal,” tuturnya.

Meskipun demikian, pemerintah akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan harga komoditas unggulan daerah agar selalu berpihak kepada petani.

Disperindag Sulut telah membentuk tim pemantau harga yang secara rutin akan mengecek langsung harga sejumlah komoditas unggulan di pasar-pasar tradisional maupun di tangan pengumpul.

Sementara itu, petani cengkih asal Kabupaten Minahasa, Emon Monchi Sumual, mengatakan di saat harga cengkih naik, petani tidak memiliki stok untuk dijual.

“Kami berharap harga akan terus meningkat sampai panen raya cengkih nanti,” katanya.

Kalangan petani meminta agar pemerintah lebih memperhatikan petani, sehingga saat panen raya harga tetap berada di posisi yang menguntungkan mereka.

“Jika ada panen raya, harga cengkih biasanya akan turun,” kata Emon.

Dia berharap pemerintah terus mengawasi perkembangan harga sehingga tidak akan ada pedagang yang memanfaatkan panen raya, dengan menurunkan harga seenaknya tanpa memikirkan nasib petani.

Selain dibutuhkan oleh industri di dalam negeri, komoditas cengkih Sulut juga sangat diminati oleh pasar internasional. Oleh karena itu, petani tidak perlu khawatir, karena pasar sangat terbuka lebar.

Saat panen raya, produksi cengkih di wilayah terebut mencapai sebanyak 15.000 ton hingga 20.000 ton.

Petani cengkih di Sulut sebelumnya mendesak pemerintah setempat untuk turun tangan guna mengantisipasi turunnya harga komoditas itu lebih dalam.

Setiap kali panen, harga cengkih di tangan pedagang otomatis perlahan-lahan turun sehingga petani tidak merasakan harga yang selayaknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sulut harga cengkeh cengkeh
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top