Penyelesaian COC Laut China Selatan Terhambat

Proses peyusunan kode etik (code of conduct/COC) Laut China Selatan terganjal oleh gap antara situasi lapangan dan apa yang dibahas oleh para pemimpin ASEAN di meja perundingan.
Dara Aziliya | 02 Oktober 2014 19:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Proses peyusunan kode etik (code of conduct/COC) Laut China Selatan terganjal oleh gap antara situasi lapangan dan apa yang dibahas oleh para pemimpin ASEAN di meja perundingan.

Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri Indonesia, I Gusti Agung Wesaka Puja menyampaikan proses trust building antara negara-negara terkait yaitu China, Filipina, dan Vietnam tidaklah mudah.

Di sisi lain, Agung menyampaikan, konflik Laut China Selatan tidak berdampak besar pada kerjasama perdagangan dan investasi di negara-negara ASEAN, mengingat China dan negara-negara ASEAN berkomitmen agar konflik ini tidak sampai menyandera hubungan multirateral yang telah bertahun-tahun dibangun.

“Justru China kini lebih agresif menyusun proposal-proposal program kerjasama. Penyelesaian COC butuh waktu, kita harap semoga segera ada lompatan signifikan,” jelas Agung yang 2 minggu lalu ikut membahas hal tersebut di Beijing, di Jakarta, Kamis (2/10/2014).

Seperti diketahui, dalam beberapa waktu terakhir China dan beberapa negara ASEAN seperti Filipina dan Vietnam tengah bertikai mengenai batas wilayah Laut China Selatan. China sempat meletakkan rig pengeboran minyak di wilayah tersebut, sehingga mengundang pergolakan massa di Vietnam.

Ribuan orang turun ke jalan di Hanoi, menuntut penutupan pabrik-pabrik asal China yang beroperasi di Vietnam. Sementara itu, Presiden Filipina Benigno Aquino tampaknya mulai menyadari luasnya dampak sengketa tersebut ke negaranya, dengan secara implisit mengatakan Filipina dan China tidak perlu bertikai.

Sementara itu, Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia, Li Hongyang mengakui bahwa sengketa Laut China Selatan dengan negara ASEAN tersebut memang telah menarik perhatian dunia. Ia merujuk pada ‘teguran’ John Kerry untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut.

“Situasi ini memang mengundang perhatian semua orang. China berharap dapat menyelesaikannya terutama melalui aspek common development. Kita harus segera merampungkan COC melalui negosiasi,” terang Liu di Jakarta.

Liu meyakinkan konflik ini tidak akan mengurangi intensi China untuk berinvestasi di negara-negara ASEAN. Ia menyampaikan Pemerintah China menargetkan volume transaksi perdagangan sebesar  US$500 miliar dengan ASEAN hingga 5 tahun ke depan. Adapun dalam 6 tahun ke depan, China menyiapkan investasi dua arah senilai US$150 miliar.

“Investasi amat penting bagi hubungan kami dan negara-negara ASEAN. Saat ini, kami fokus pada pemerintahan baru Indonesia, di mana pemerintah China akan menyesuaikan program dengan kebijakan pemerintah baru,” kata Liu.

Liu melaporkan tahun lalu nilai total transaksi perdagangan antara China dan Indonesia adalah US$68,3 miliar dolar dan menargetkan transaksi senilai US$80 miliar pada tahun ini.

Tag : laut china selatan
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top