Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

REFERENDUM SKOTLANDIA: Ragam Tanggapan Setelah Jawaban No Unggul

Sistem negara kesatuan di Inggris Raya, terbagi atas Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, kerap mendapat cobaan, antara lain upaya referendum yang terjadi di Skotlandia.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 September 2014  |  13:30 WIB
Bendera Skotlandia berkibar di samping bendera Inggris - Reuters
Bendera Skotlandia berkibar di samping bendera Inggris - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA- Sistem negara kesatuan di Inggris Raya,  terbagi atas Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, kerap mendapat cobaan, antara lain upaya referendum yang terjadi di Skotlandia.

Referendum yang mempertentangkan kelompok prointegrasi (tetap bersatu dengan Inggris Raya) dengan kelompok prokemerdekaan (memisahkan diri dengan Inggris Raya).

Deputi Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon dari SNP menyatakan Skotlandia bila merdeka akan dapat menjadi negara yang lebih sukses secara ekonomi, antara lain karena 60% cadangan minyak bumi di Uni Eropa diperkirakan terdapat di kawasan lepas pantai Skotlandia.

Sturgeon berpendapat, "Meski memiliki potensi kekayaan yang hebat, banyak warga di Skotlandia yang tidak mendapatkan manfaat yang sepadan."

Sementara itu, anggota parlemen Partai Konservatif Rory Stewart mengemukakan bahwa pihak nasionalis menyalahkan berbagai permasalahan Skotlandia kepada Inggris.

Padahal, ujar Stewart yang juga berasal dari Skotlandia, peningkatan kesejahteraan masyarakat Skotlandia dapat tercapai tanpa harus memisahkan diri, tetapi dengan memperkuat demokrasi lokal.

Referendum yang telah digelar pada tanggal 18 September 2014  telah memberikan hasil, Skotlandia menolak kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan persatuan dengan Kerajaan Inggris Raya.

Seperti dikutip dari Antara, Sabtu (20/9/2014),  jumlah warga yang tidak mendukung kemerdekaan sebanyak 55,42 % sedangkan yang mendukung sebanyak 44,58%.

Ratu Elizabeth sebagai Kepala Negara Inggris Raya pada hari Jumat (19/9/2014) mengatakan bahwa setiap orang di Inggris akan menghormati hasil referendum kemerdekaan Skotlandia, yaitu wilayah tersebut tetap menjadi bagian dari Inggris.

Saat mengeluarkan pernyataan tertulis dari Balmoral Castle di Skotlandia Utara, Ratu Inggris tersebut mengatakan bahwa hasil pemungutan suara Skotlandia untuk tetap menjadi bagian dari Inggris.

Ratu Elizabeth sebagaimana diberitakan kantor berita Xinhua mengatakan bahwa masyarakat Skotlandia akan bersatu lagi "dengan saling menghormati dan mendukung".

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris David Cameron sebagai Kepala Pemerintahan Inggris Raya mengatakan bahwa pihaknya telah berbicara dengan pemimpin SNP Alex Salmond sekaligus mengucapkan selamat atas kampanye yang diperjuangkan dengan keras.

"Saya gembira SNP akan bergabung dalam pembicaraan mengenai desentralisasi lebih lanjut. Sekarang waktunya bagi Kerajaan Inggris untuk bersatu dan melangkah ke depan," kata Cameron.

Cameron menambahkan bahwa perdebatan tentang kemerdekaan Skotlandia dari Inggris telah ada sepanjang satu generasi dan pemerintah Inggris telah mendengar keinginan rakyat Skotlandia untuk tetap bersama.

Sementara itu, Alex Salmond mengatakan bahwa pihaknya menerima hasil pemilihan suara pada hari Jumat dan meminta warga Skotlandia untuk tetap mengikuti suara demokrasi dari hasil pemilihan itu.

Alex Salmond juga menyatakan akan mundur dari posisinya sekaligus sebagai pemimpin SNP setelah pemilihan suara rakyat Skotlandia menghasilkan tetap bergabung dengan Kerajaan Inggris.

"Saya percaya di situasi baru yang menggairahkan ini, diwarnai dengan kemungkinan, partai, parlemen, dan negara akan mendapat keuntungan dari kepemimpinan baru," kata Salmond.

Salmond berharap 1,6 juta orang Skotlandia yang memilih merdeka dari Inggris akan tetap menekan pemerintah Inggris agar memberikan kekuasaan yang baru sebagaimana janjinya kepada Skotlandia. Janji pemberian otonomi itu merupakan alternatif bagi Skotlandia jika tetap bergabung dengan Inggris.

Dari Uni Eropa, pemimpin eksekutif Uni Eropa Jose Manuel Barroso menyatakan penolakan kemerdekaan Skotlandia dari Inggris akan membantu membentuk Uni Eropa lebih "bersatu, terbuka, dan kuat".

"Saya menyambut keputusan rakyat Skotlandia mempertahankan kesatuan Inggris. Hasil ini baik untuk Eropa yang bersatu, terbuka dan kuat berdasarkan Komisi Eropa," kata Barroso dalam sebuah pernyataan.

Barroso sebelumnya telah memperingatkan Skotlandia bahwa kawasan itu harus mengajukan permohonan kembali untuk keanggotaan Uni Eropa jika menjadi sebuah negara merdeka.

Berbagai euforia dalam beragam bentuknya kini dirasakan oleh kelompok prointegrasi yang berhasil mempertahankan semangat negara kesatuan di Inggris Raya.

Namun, mereka juga harus ingat bahwa pemimpin Inggris Raya dalam saat-saat terakhir sebelum referendum juga menjanjikan otonomi yang lebih luas kepada Skotlandia bila hasil yang diperoleh menyatakan bahwa Skotlandia menolak berpisah dengan Inggris.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

skotlandia

Sumber : Antara

Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top