Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Malaysia: Diprediksi Menguat, Ringgit Terlalu Lemah

Bisnis.com,  SINGAPURA—Nilai tukar ringgit Malaysia dinilai telah melemah terlalu jauh, meskipun perekonomian Negeri Jiran itu diprediksi menguat dalam beberapa bulan ke depan. Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perencanaan Malaysia Abdul
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 21 Agustus 2013  |  20:57 WIB
Ekonomi Malaysia: Diprediksi Menguat, Ringgit Terlalu Lemah
Bagikan

Bisnis.com,  SINGAPURA—Nilai tukar ringgit Malaysia dinilai telah melemah terlalu jauh, meskipun perekonomian Negeri Jiran itu diprediksi menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perencanaan Malaysia Abdul Wahid Omar, ketika menanggapi depresiasi ringgit yang mencapai level terendah dalam 3 tahun terakhir pada pekan ini.

“Secara fundamental, ringgit tidak seharusnya berada pada level ini,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Kuala Lumpur, Selasa (20/8).

Dia mengatakan negara berperekonomian terbesar ketiga di Asia Tenggara itu sempat menikmati kondisi ekonomi yang membaik pada kuartal I/2013 dan diharapkan lebih menguat pada paruh kedua tahun ini.

Berdasarkan perkiraan median dari 22 ekonom yang disurvei Bloomberg, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Malaysia kemungkinan mencapai 4,7% dalam 3 bulan yang berakhir pada Juni dari tahun sebelumnya.

Angka pertumbuhan itu lebih pesat jika dibandingkan dengan kuartal pertama sebesar 4,1%. Akan tetapi, angka tersebut masih tetap berada di bawah 5%, sehingga menandakan performa 6 bulan yang paling lemah sejak 2009.

Malaysia termasuk dalam jajaran negara Asia Tenggara yang tengah mengalami gejolak ekonomi pada pekan ini, akibat spekulasi bahwa Federal Reserve Amerika Serikat akan mengurangi stimulus pada bulan depan.

Akibat spekulasi tersebut, prospek pertumbuhan di kawasan itu kembali dikoreksi, seiring dengan tren penjualan besar-besaran terhadap saham dan mata uang negara berkembang.

Credit Suisse Group AG mengatakan Malaysia dan Thailand dianggap sebagai negara-negara yang paling rentan setelah India dan Indonesia. Mereka tengah menghadapi masalah ketidakseimbangan transaksi berjalan, serta pelonjakan kepemilikan asing atas utang-utang mereka.

“Meski situasi fundamental Malaysia dan Thailand tidak selemah Indonesia, mereka memiliki cukup banyak kemiripan dalam hal  kepemilikan obligasi asing, maupun perlambatan surplus transaksi berjalan,” ujar Jonathan Cavenagh, ahli strategi nilai tukar Westpac Banking Group Corp, Rabu (21/8).

Nilai tukar ringgit anjlok menjadi 3,3020 per dolar pada Selasa (20/8), atau yang terlemah sejak Juni 2010.

Ringgit diperdagangkan di level 3,2940 per dolar pada Rabu pagi waktu Kuala Lumpur. Indeks acuan FTSE Bursa Malaysia KLCI merosot 0,1% setelah tergelincir 1,9% sehari sebelumnya.

“[Saya] tidak berharap [ringgit] akan melemah sampai ke level ini. Kami harus memastikan kekhawatiran pasar dapat teratasi,” ujar Abdul Wahid.

Pasar Asia Tenggara telah anjlok pada pekan ini, seiring dengan melemahnya nilai tukar rupee India ke rekor terendah dan anjloknya nilai rupiah yang memecahkan rekor sejak 2009.

Para analis Barclays Plc merekomendasikan para inevstor obligasi mempertahankan posisi underweight di Malaysia, Thailand, dan Indonesia, karena melambatnya pertumbuhan dan ketidakpastian kebijakan di Thailand serta lemahnya keuangan publik di Malaysia.(Bloomberg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi malaysia ringgit
Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top