Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HUBUNGAN BILATERAL: Mari Pangestu Bahas Peningkatan Kerjasama Dengan Menlu Maroko

BISNIS.COM,RABAT --Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Mari Elka Pangestu membahas hubungan bilateral Indonesia-Maroko, pembangunan di tingkat regional, serta masa depan sistem perdagangan multilateral di bawah World Trade Organization (WTO).
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 14 Maret 2013  |  11:01 WIB

BISNIS.COM,RABAT --Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  Mari Elka Pangestu membahas hubungan bilateral Indonesia-Maroko, pembangunan di tingkat regional, serta masa depan sistem perdagangan multilateral di bawah World Trade Organization (WTO).

Mari berkunjung ke Rabat, Maroko pada 12 Maret 2013 dan bertemu Menteri Luar Negeri dan Kerjasama Maroko Saad El Dine-Otmani, Menteri Pariwisata Maroko Lahcen Haddad dan Sekretaris Jenderal Departemen Perindustrian, Perdagangan dan Teknologi Baru El Aid Mahsoussi.

"Kami sangat menghargai peran Maroko sebagai koordinator kelompok negara-negara Afrika di WTO. Penting untuk mempertimbangkan perbedaan tingkat pembangunan para anggotanya dalam menyelesaikan negosiasi perdagangan multilateral dan peningkatan kapasitas yang efektif dan bantuan perdagangan," ujar Mari, dalam siaran pers Kemenparekraf, Kamis (14/3).

RI dan Maroko merupakan bagian dari Gerakan Non Blok, Organisasi Kerjasama Islam serta Konferensi Asia-Afrika, yang pertama kali diadakan di Bandung pada 1955 dan berperan untuk mendorong gerakan kemerdekaan dari berbagai bangsa di Asia dan Afrika. Maroko merdeka pada 1956 dan Presiden Soekarno mengunjungi Maroko pada 1960.

RI-Maroko sepakat bahwa banyak hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara pada sektor investasi, pariwisata, perdagangan, dan pertukaran sumber daya manusia.

Kedua negara juga sepakat bahwa Komite Bersama harus diselenggarakan sesegera mungkin tahun ini.


Mari Pangestu dan Menteri El-Otmani sepakat bahwa WTO sebagai institusi dan kerangka aturannya telah memberikan kontribusi signifikan dalam melancarkan perdagangan yang adil dan seimbang.

Kedua menteri juga sepakat bahwa Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-9 pada Desember 2013 di Bali dinilai penting untuk menjaga kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral.

Keberhasilan Konferensi Tingkat Menteri ke-9 tersebut juga tergantung pada apakah anggota dapat mencapai kesimpulan dalam pengurangan tarif tahap awal (early harvest) dan langkah-langkah untuk menyelesaikan Doha Development Agenda.

Mari menjelaskan ada tiga hal yang harus dicapai dalam konferensi tingkat menteri berikutnya, yaitu keseimbangan dalam paket fasilitasi perdagangan, keseimbangan antara unsur pengurangan tarif tahap awal, dan keseimbangan antara pengurangan tarif tahap awal dan langkah-langkah yang harus diambil pasca Konferensi Bali untuk menuntaskan perundingan Doha.


Dalam beberapa pekan terakhir  Mari Pangestu telah melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pencalonannya sebagai Dirjen WTO.

Selain menyampaikan visi dan misinya pada kesempatan pertemuan General Council di Jenewa beberapa waktu lalu, Mari Pangestu juga telah bertemu dengan perwakilan WTO dari sejumlah negara dan mengunjungi beberapa kota, seperti Washington DC, Beijing, Brussels, Paris, Berlin, Moskow, Dubai, Abidjan, Abuja, Kairo, dan Stockholm untuk menyampaikan komitmennya untuk mengintegrasikan tiap-tiap negara ke dalam sistem perdagangan multilateral.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sidang WTO menparekraf multilateral

Sumber : bambang supriyanto

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top