Sritex bangun pabrik serat rayon

manda
manda - Bisnis.com 21 Desember 2010  |  09:07 WIB

JAKARTA : PT Sri Rejeki Isman (Sritex), produsen tekstil dan produk tekstil (TPT), berencana membangun pabrik serat fiber pada tahun depan dan fasilitas produksi baru ini ditargetkan efektif beroperasi pada 2013.

Aryanto Sagala, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian mengatakan Sritex akan membangun pabrik serat rayon (fiber), dimana produksi serat rayon di dalam negeri saat ini baru dilakukan oleh dua produsen. Pembangunan pabrik serat rayon milik Sritex ini akan dimulai pada tahun depan dan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 2 tahun.

Kemarin, bank yang memberikan pinjaman untuk mereka, mendatangi saya. Mereka menanyakan peluang untuk membangun pabrik tersebut. Kalau proses due diligence sudah selesai, maka tahun depan akan mulai pembangunan fisiknya, kata Aryanto.

Disinggung mengenai kapasitas pabrik dan nilai investasi yang ditanamkan Sritex untuk pabrik serat rayon tersebut, Arryanto mengaku tidak mengetahui secara pasti. Namun, Arryanto mengatakan kapasitas pabrik tersebut akan menyamai PT Indo Bharat Rayon yakni sebanyak 6 line produksi.

Kalau dahulu, Indo Bharat memulai dengan 3 line produksi. Untuk Sritex ini kami belum mengetahui persis pada tahap pertama akan membangun berapa line, ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, General Manager Sritex, Halim Sugiarto mengakui rencana pembangunan pabrik baru yang memproduksi serat fiber ini baru mulai pada 2011. Saat ini perusahaan telah menyelesaikan izin lokasi dan perizinan lainnya.

Realisasinya baru tahun depan, lokasinya akan berada di Surakarta, katanya. Sayangnya, Halim tidak dapat menjelaskan lebih jauh mengenai kebutuhan investasi dan kapasitas fasilitas produksi tersebut. Untuk pabrik serat ini akan membutuhkan modal yang cukup besar, ujarnya singkat.

Ekspansi Sritex di sektor serat rayon ini, sejalan dengan proyeksi Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) bahwa negara ini bakal menjadi produsen serat rayon dan polyester terbesar di dunia pada 2014.

Kapasitas kapasitas produksi serat rayon dan polyester Indonesia pada 2014 diperkirakan mencapai 1 juta ton per tahun, dipicu ekspansi produsen guna merespon permintaan pasar yang diyakini terus meningkat.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan kapasitas produksi serat rayon dan polyester di Indonesia saat ini sekitar 600.000 ton per tahun dan menempati peringkat tiga besar di dunia, dengan China berada di posisi teratas.

Investasi akan terus meningkat khususnya di sektor pemintalan dan pembuat serat. Sektor pembuat serat akan tumbuh luar biasa tahun depan dan dalam 3 tahun mendatang [2014], kita [Indonesia] akan menjadi produsen serat terbesar di dunia dengan kapasitas 1 juta ton per tahun, katanya.

Menurut Ade, faktor pemicu yang mendorong Indonesia menjadi produsen serat rayon dan polyester terbesar di dunia pada 2014, adalah kondisi negara ini yang tidak memproduksi kapas sehingga bergantung pada pasokan impor, sehingga peningkatan kebutuhan bahan baku ini diisi oleh rayon dan polyester.

Selama kapas ini menjadi barang langka di dunia karena produksi tidak bisa mengikuti kenaikan permintaan, maka ini akan diisi oleh rayon dan polyester. Para pemain di sub sektor ini akan berekspansi, ujarnya.

Di sisi lain, Sugianto melanjutkan selain ekspansi di sektor serat fiber, perusahaan juga melakukan perluasan kapasitas di sektor pemintalan yang merupakan kelanjutan dari tahun lalu.

Presiden Direktur Sritex Iwan S. Lukminto sebelumnya mengatakan perusahaan berencana membeli 180.000 mata pintal hingga 2012 mendatang. Adapun untuk 2011, Sritex menargetkan membeli 90.000 mata pintal.

Jadi pada 2012, sebanyak 180.000 mata pintal itu terpenuhi. Total investasinya sekitar Rp1 triliun. Ini dilakukan bertahap, katanya. Dengan menambah jumlah mata pintal, kapasitas produksi Sritex diharapkan naik hingga 50% atau mencapai 90.0000 bale per bulan, dari saat ini sebesar 40.000 bale.

Pada 2007, Sritex telah berinvestasi sebesar Rp56,88 miliar dan menikmati fasilitas subsidi revitalisasi permesinan dari pemerintah sebesar Rp5 miliar. Pada 2008, perusahaan menambah investasi sebesar Rp68,42 miliar dan memanfaatkan dana stimulus sebesar Rp5 miliar.

Tahun lalu, perusahaan membenamkan investasi Rp64,31 miliar dan kembali mendapat fasilitas stimulus dengan besaran angka yang sama. Tahun ini, Sritex berinvestasi sebesar Rp29,26 miliar dan mendapat bantuan stimulus sebesar Rp2,93 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top