Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Author

Bramantyo Djohanputro

Dosen Finance, Governance, Risk, and Compliance di PPM School of Management

Lihat artikel saya lainnya

OPINI : Petisi Kembali Work From Home

Pro kontra WFA adalah berikut. Bagi yang tidak menginginkan penerapan sebagai metode normal, WFA dianggap sebagai kemewahan pelaku, baik pekerja, mahasiswa, pel
Aktivitas WFH membutuhkan dukungan internet WiFi yang cepat dan stabil. Biznet
Aktivitas WFH membutuhkan dukungan internet WiFi yang cepat dan stabil. Biznet

Bisnis.com, JAKARTA -  Lucu juga membaca edaran di media sosial tentang ajakan ikut petisi WFH. Tetapi sebenarnya sangat masuk akal, dan memang WFH maupun WFA mestinya menjadi hal biasa, bukan kemewahan.

WFH, work from home, maupun WFA, work from anywhere, mestinya diberlakukan sebagai teknologi yang mempermudah, mengefektifkan, mengeefisienkan, atau meningkatkan produktivitas kerja dan bukan dianggap sebagai perkara menyulitkan maupun kemudahan pengguna untuk bersantai, mencuri waktu kerja, atau anggapan negatif lainnya.

Kalimat-kalimat berikut ini menggunakan istilah WFA yang didalamnya sudah mencakup WFH. Dan huruf W, working, berlaku baik untuk kegiatan bekerja seperti di perkantoran maupun proses pembelajaran baik untuk mahasiswa di kampus, siswa sekolah, maupun trainees untuk peserta pelatihan.

Tulisan ini berharap membantu perubahan paradigma WFA. Kalau saat ini pendekatan yang digunakan adalah bekerja secara luring, offline kecuali dalam keadaan khusus diizinkan WFA, ke depannya diharapkan bekerja secara WFA sebagai kebiasaan dan kenormalan kecuali dalam hal khusus bekerja secara luring, tatap muka.

Pro kontra WFA adalah berikut. Bagi yang tidak menginginkan penerapan sebagai metode normal, WFA dianggap sebagai kemewahan pelaku, baik pekerja, mahasiswa, pelajar, maupun peserta pelatihan. Mereka bisa melakukan aktivitas dari rumah atau pun di mana saja yang mereka sukai. Kemewahan tersebut dianggap berdampak pada turunnya produktivitas.

Terkait produktivitas, WFA dianggap banyak membuang waktu kerja karena tidak terkontrol. Tidak ada yang tahu apa karyawan atau mahasiswa benar-benar menggunakan waktu 100% untuk menjalankan kewajiban. Sangat mungkin bila di rumah, selain bekerja juga memasak, bersih-bersih rumah, olahraga, mengasuh anak, berbelanja, dan berbagai aktivitas yang tidak relevan dengan pekerjaan dengan memanfaatkan jam kerja.

Alasan ketiga penolakan WFA adalah belum adanya sarana dan mekanisme internal institusi yang mendukung secara memadai untuk mencatat kehadiran. Juga pelaku belum tentu memiliki jaringan yang memadai dan ruangan kerja yang memenuhi syarat.

Alasan lain adalah karena ada pekerjaan-pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan secara WFA, seperti pengelolaan gudang bahan baku dan barang jadi, proses produksi, lobi dan negosiasi dengan pelanggan,perlunya tanda tangan basah, dan pertemuan tertentu seperti rapat yang diwajibkan untuk hadir secara fisik seperti tercantum dalam anggaran organisasi.

Pendukung WFA justru memandang berbeda. Mereka percaya bahwa WFA meningkatkan produktivits. Bagi karyawan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, perjalanan rumah ke kantor selalu menjadi momok. Jarak tempuh 1 jam dianggap cepat, 2 jam dianggap normal. Perjalanan pergi-pulang kantor minimum 2 jam sehari dan menguras energi dan emosi, yang berdampak turunnya produktivitas.

Juga polusi. Kemacetan kendaraan menaikkan karbon dioksida dengan jumlah yang signifikan. Tentu ini tidak sejalan upaya keberlanjutan, sustainability, karena mencemari lingkungan. Bila dikaitkan dengan biaya transportasi dan sekaligus dampak lingkungan, WFO, working from office, justru berlawanan dengan prinsip triple Ps, khususnya aspek prosperity dan planet.

Apa betul pertemuan tatap muka lebih efektif? Jawabannya ya dan tidak. Jawaban ya untuk pertemuan yang bersifat lobi dan negosiasi intensif, yang perlu membaca dan memengaruhi bahasa tubuh. Tetapi pertemuan, diskusi, sampai pengambilan keputusan antarrekan kerja, yang lebih didasarkan atas rasionalitas FGRC atau feasibility, governance, compliance, risk, WFA dan WFO memiliki tingkat efektifitas yang sebanding.

Dalam proses belajar bagi mahasiswa, siswa, dan peserta pelatihan juga mirip. Hal-hal yang bersifat latihan teknis, negosiasi, dan demontrasi memerlukan tatap muka. Selain itu, proses belajar melalui daring bisa sama efektifnya dengan pertemuan tatap muka. Tentu perlu inovasi proses pembelajaran melalui daring, yang tidak bisa semata-mata sekedar memindahkan proses pembelajaran luring ke daring mentah-mentah.

Isu kontrol bekerja ternyata tidak menjadi masalah bagi beberapa institusi yang telah menerapkan WFA. Kesiapan fasilitas kerja termasuk komputer dan jaringan di rumah, ruangan yang harus bebas gangguan, wajib bisa dihubungi setiap saat selama jam kerja bila diperlukan, dan yang lebih penting adalah kejelasan ukuran kinerja yang harus dicapai oleh setiap karyawan.

WFA juga mengakomodasi perkembangan tuntutan keseimbangan hidup, life balance. Dengan model WFO, banyak kantor melakukan investasi dengan mengubah nuansa ruangan dan suasana kerja menjadi lebih bersahabat, kesan bermain, rileks, bahkan menyediakan fasilitas untuk anak bermain. Dengan WFA, investasi seperti itu bisa diminimalisasi karena setiap orang sudah melakukannya di rumah masing-masing, atau menggunakan fasilitas seperti co-working space.

Yang lebih unggul dengan WFA dan sulit dipenuhi oleh sistem WFO adalah perhatian kepada keluarga, bisa mengantar anggota keluarga ke sekolah atau bahkan ke rumah sakit, dan interaksi yang lebih intensif dengan sesame anggota keluarga. Seorang eksekutif pernah mengatakan, daripada seorang karyawan masuk kantor tetapi memikirkan anaknya yang sakit sehingga tidak fokus bekerja, lebih baik dia mengurus yang sakit, bekerja dari rumah, yang penting jelas apa yang harus dikerjakan dan yang harus dicapai. Dengan demikian, dia, atasan, dan kantor sama-sama diuntungkan. Penggunaan waktu untuk keluarga tidak berarti menurunkan produktivitas, bahkan bisa tetap mempertahankan energi bekerja, apalagi didukung oleh sistem dan aturan kantor yang baik.

Uraian di atas memang cenderung mendukung pelaksanaan WFA, seperti disebutkan di paragraf awal tulisan ini. Bila sepakat, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan supaya WFA berjalan dengan mulus. Pertama, institusi perlu membangun kesadaran pentingnya dan baiknya WFA, yang salah satunya dengan mengundang institusi-institusi yang telah menerapkan WFA sebagai narasumber dan acuan. Tujuannya adalah belajar bagaimana membangun WFA yang kuat, yaitu yang menunjang triple Ps, menunjang produktivitas mencapai prosperity pemilik, manajemen, dan karyawan, meningkatkan people’s atau social capital, dan berkontribusi pada kelestarian lingkungan.

Kedua, setiap organisasi mulai menyiapkan peta jalan WFA dengan menyiapkan sistem kerja, sarana kerja, dan aturan kerja untuk menjaga supaya memiliki WFA yan kuat, yaitu yang produktif. Ketiga, payung aturan yang diperlukan, baik aturan internal organisasi seperti anggaran dasar, kebijakan, dan SOP, maupun regulasi dari institusi yang berwenang. Semoga berjalan dengan baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper