Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jokowi: Butuh Jurus Kancil dan Abu Nawas untuk Hadapi Krisis

Jokowi menegaskan kepada para ekonom, bahwa dibutuhkan pemikiran Abu Nawas dan kancil untuk menghadapi situasi yang tidak pasti saat ini.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 07 September 2022  |  15:06 WIB
Jokowi: Butuh Jurus Kancil dan Abu Nawas untuk Hadapi Krisis
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr. dan Louise Araneta Marcos mengunjungi Gedung Sarinah, Jakarta, pada Senin (5 - 9) usai menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Filipina di Istana Kepresidenan Bogor. Setpres.\\r\\n
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan para ekonom jangan menggunakan pakem yang ada karena situasi saat ini sangat tidak normal, sehingga dibutuhkan pemikiran Abu Nawas dan kancil untuk menghadapi situasi yang tidak pasti.

Jokowi menyampaikan hal itu saat membuka acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar pada Rabu (7/9/2022) di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta.

Jokowi menyampaikan kepada para ekonom untuk meninggalkan cara-cara lama dalam menghadapi situasi dunia yang penuh ketidakpastian dan berubah begitu cepat.

"Saya titip ke ekonom, jangan menggunakan pakem-pakem yang ada, jangan menggunakan standar yang ada karena saat ini sangat tidak normal sehingga dibutuhkan pemikiran Abu Nawas [seperti pemikiran] yang kancil-kancil [yang cerdik]," katanya.

Presiden menjelaskan, bahwa perubahan dunia yang begitu cepat diawali dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara di dunia.

Bahkan, dia mengaku bersyukur Indonesia tidak mengambil kebijakan lockdown, sebab dinilai akan membuat perekonomian nasional terkontraksi lebih dalam.

"Apakah benar kita harus melakukan itu [lockdown]? Dan jawabannya saat itu saya jawab tidak usah lockdown. Dan ternyata betul saya nggak bisa membayangkan kalau saat itu kita lockdown, mungkin kita bisa masuk ke minus lebih dari 17 persen," katanya.

Selain itu, Presiden juga menjelaskan bahwa pandemi memberikan pelajaran bagi pemerintah pentingnya konsolidasi dari semua pihak untuk menghadapi berbagai permasalahan.

Konsolidasi tersebut penting diterapkan mulai dari pemerintah pusat, provinsi, daerah, organisasi masyarakat, TNI, Polri, hingga masyarakat.

"Konsolidasi seperti itulah yang harus kita teruskan dalam menghadapi pascapandemi karena perang, karena adanya krisis energi, karena adanya krisis pangan, adanya krisis finansial. Yang paling penting kita bisa mengkonsolidasi dari atas sampai ke bawah," ujarnya.

Jokowi menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan serta bahu-membahu bersama pemerintah untuk membangun negara Indonesia ke arah yang lebih baik.

"Yang paling penting menurut saya, jaga persatuan, jaga kesatuan kita, bahu membahu untuk negara ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam sambutannya juga mendukung adanya kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, media, hingga kalangan akademisi untuk menjadi bagian dari upaya normalisasi perekonomian nasional.

"Perlu aksi-aksi nyata dalam proses normalisasi dengan melihat tantangan dan peluang yang saat ini terjadi," ujarnya.

Turut hadir dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Keuangan Sri Mulyani, CEO CT Corp Chairul Tanjung, dan Senior Ekonom INDEF Didik J Rachbini.

Sekadar informasi, Abu Nawas adalah penyair Timur Tengah yang terkenal dengan kelihaiannya mengemas kritik berbungkus humor. Namanya tercantum dalam dongeng 1001 malam. Adapun, Dalam dongeng Indonesia, kancil digambarkan sebagai hewan cerdik dan lincah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi pemulihan ekonomi krisis finansial Krisis Energi
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top