Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Dosen UGM: Kenaikan Tiket Candi Borobudur Akal-Akalan Semata

Tiket masuk Candi Borobudur untuk wisatawan domestik direncanakan naik menjadi Rp750.000. Guru Besar Ilmu Sejarah UGM Jogja menilai penetapan kenaikan harga tersebut adalah akal-akalan.
Chelin Indra Sushmita
Chelin Indra Sushmita - Bisnis.com 05 Juni 2022  |  16:24 WIB
Dosen UGM: Kenaikan Tiket Candi Borobudur Akal-Akalan Semata
Candi Borobudur. - KEMENPAR
Bagikan

Bisnis.com, SOLO — Rencana kanaikan tarif tiket masuk ke Candi Borobudur yang disampaikan Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menuai pro-kontra. Publik menilai kenaikan tarif untuk wisatawan domestik menjadi Rp750.000 sangat memberatkan dan tidak masuk akal.

Komentar tersebut salah satunya disampaikan Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Sri Margana, M. Hum. Melalui akun Twitter @margana_s, ia menilai kenaikan tarif kunjungan ke Candi Borobudur secara ugal-ugalan hanyalah akal-akalan semata.

“Membatasi kunjungan untuk preservasi heritage yang sudah ribuan tahun umurnya itu baik dan perlu. Di samping itu setiap tahunnya pengunjung Borobudur terus meningkat dengan area yang terbatas. Pengunjung tidak dapat menikmatinya dengan nyaman karena terlalu berjubel,” katanya.

“[Namun] cara menaikkan tiket secara ugal-ugalan itu juga akal-akalan saja. Mau melindungi obyeknya tetapi tidak mau berkurang penghasilannya,” sambung dia.

Pihaknya pun menambahkan, ada cara yang lebih bijak dalam membatasi kunjungan ke Candi Borobudur, salah satunya menerapkan sistem reservasi.

“Masih ada cara yg lebih bijak, yaitu dg membatasi kuota kunjungan, khususnya bagi pengunjung rombongan dengan melakukan reservasi lebih dulu,” katanya.

Cara lain adalah mengatur aliran pengunjung, bukan malah menetapkan kenaikan tiket masuk Candi Borobudur yang sangat memberatkan.

“Atau mengatur aliran pengunjung sedemikian rupa sehingga tidak merusak heritage. Misalnya membedakan tiket bagi yang ingin naik ke candi atau hanya berkeliling di sekitar candi. Rp750.000 tentu tidak terjangkau untuk turis domestik. Aturan ini juga diskriminatif karena hanya berlaku untuk domestik,” tandasnya.

Prof Margana juga mengatakan, prinsip lain yang harus dipegang pengelola dan pengunjung objek wisata Candi Borobudur adalah bangunan tersebut merupakan tempat ibadah umat Budha yang suci dan harus dihormati.

“Artinya aturan mengunjungi tempat suci harus ditegakkan dan dihormati. Ada baiknya pengelola menyediakan disposal shoes yang proper bagi yang menaiki area candi. Selain menjaga kesucian, juga untuk melindungi batu candi yang sudah berumur itu dari korosi akibat sepatu-sepatu pengunjung,” imbuh dia.

Diberitakan sebelumnya, Menko Marinves, Luhut Binsar, berencana menaikkan harga tiket masuk ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Tiket untuk turis lokal dipatok Rp750.000 per orang. Sementara turis asing US$100 atau sekitar Rp1,4 juta.

Selain itu Luhut juga berencana membatasi jumlah pengunjung menjadi 1.200 per hari. Pembatasan ini dilakukan dengan tujuan melestarikan bangunan bersejarah.

-----

Berita ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Tiket Candi Borobudur Naik Ugal-Ugalan, Dosen UGM Jogja: Akal-Akalan!"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ugm tiket borobudur destinasi wisata

Sumber : JIBI/Solopos.com

Editor : Aliftya Amarilisya
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top