Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Marah! Ini Alasan Erdogan Tentang Swedia dan Finlandia Gabung NATO

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan tidak akan mengizinkan Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  09:57 WIB
Marah! Ini Alasan Erdogan Tentang Swedia dan Finlandia Gabung NATO
Presiden Turki Tayyip Erdogan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan tidak akan mengizinkan Swedia dan Finlandia untuk bergabung dengan NATO karena ketidakjelasan sikap mereka terhadap militan Kurdi.

"Kedua negara ini tidak memiliki sikap yang jelas terhadap terorisme. Swedia adalah tempat bersarang organisasi teroris,” kata Erdogan di Ankara, seperti dilansir Bloomberg pada Selasa (17/5/2022).

Turki tidak akan mengizinkan negara-negara yang memberlakukan sanksi pada Turki untuk bergabung dengan NATO. Perlu diketahui sejumlah negara Eropa membatasi penjualan senjata kepada Turki.

Namun, yang menjadi sumber kemarahan Erdogan kepada sekutu NATO adalah keengganan mereka menganggap serius militan Kurdi yang beroperasi di Turki dan perbatasan Suriah dan Irak.

Turki menginginkan kekhawatirannya terhadap ancaman itu diakui oleh seluruh anggota NATO dan prioritas risiko harus diharmonisasi di antara aliansi militer tersebut.

Sebelumnya, Finlandia dan Swedia telah mengumumkan secara resmi keinginannya bergabung dengan NATO pada Minggu (16/5/2022) yang didorong karena invasi Rusia ke Ukraina.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengatakan akan menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun, Erdogan mengungkapkan penolakannya pada menit-menit terakhir dan mengatakan pejabat Swedia dan Finlandia tidak perlu repot-repot datang ke Ankara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nato swedia turki Recep Tayyip Erdogan
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top