Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal Lebih Jauh Ki Hajar Dewantara, Bukan Hanya Pencetus Tut Wuri Handayani

Ki Hajar Dewantara mencetuskan pemikiran yang dapat menjadi inspirasi, khususnya di bidang pendidikan dan kebangsaan.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 02 Mei 2022  |  17:59 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, JAKARTA — Bapak Pendidikan Nasional dan pendiri Perguruan Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara, memiliki banyak gagasan menarik semasa hidupnya.

Pria yang juga dikenal dengan nama RM Soewardi Suryaningrat ini menjadi penggagas di dunia pendidikan bagi masyarakat Indonesia pada masa kolonialisme Belanda. 

Oleh karenanya, tanggal lahirnya yang jatuh pada 2 Mei, diresmikan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, melalui Keppres RI Nomor 316 Tahun 1959. 

Ki Hajar Dewantara meyakini sebuah filosofi bahwa pendidikan adalah sarana untuk menyemai benih-benih kebudayaan. Oleh karenanya, ia pun memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada tahun 1956, tepat dua tahun sebelum meninggal dunia. 

Pendidikan bagi Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah kebutuhan, bukan kemewahan. Kebijakannya terkait pendidikan selama menjabat sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan era Bung Karno menuai inspirasi bagi sekitarnya. 

Perguruan Tamansiswa pun dibentuknya dalam rangka memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda. 

Slogan dan kebijakan Merdeka Belajar yang diusung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun bersumber dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. 

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ristek Iwan Syahril menegaskan, Merdeka Belajar merupakan filosofi yang berasal dari pemikiran bapak pendidikan nasional tersebut. 

“Slogan tersebut bermakna bahwa pendidik harus menjadi teladan, membangkitkan semangat, serta membentuk manusia merdeka. Oleh karenanya, fokus penting pendidikan harus bersumber pada anak,” ujar Iwan dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu. 

Senada, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Komisi X Rano Karno menilai masih banyak pihak yang hanya memahami pemikiran pendidikan Ki Hadjar Dewantara di permukaannya saja. 

“Jika kita menelaah buku Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, maka kita menemukan betapa pentingnya Ki Hadjar Dewantara dalam menentukan arah pendidikan Indonesia,” ujar Rano. 

Artinya, lanjut Rano, mendidik anak untuk menjadi warga negara yang baik dengan moral dan pikiran. Hal ini selaras dengan Undang-Undang Dasar 1945 perihal mencerdaskan bangsa. 

“Mencerdaskan bangsa bukan berarti mencerdaskan individu, namun menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan hidup dan penghidupan rakyat Indonesia,” sambung Rano.

Widyawati, salah seorang anggota keluarga besar Ki Hajar Dewantara mengingatkan ajaran-ajaran pendidikan pendiri Perguruan Tamansiswa tersebut tidak hanya sekadar Tut Wuri Handayani. 

Lebih jauh, tujuan dari pendidikan yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara adalah satu proses yang tidak diam. Terdapat tiga asas yang dikenalkan Ki Hadjar Dewantara, yaitu kontinyu, konvergen, dan konsentris. 

Ki Hajar Dewantara juga memformulasikan gagasan para tokoh pendidikan dunia dan menyesuaikannya dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. 

“Contohnya Ki Hadjar mencari dan memelajari pemikir pendidikan dunia, seperti Montessori, Froebel, dan Tagore. Semua pemikiran itu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pendidikan kita,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pendidikan sejarah hardiknas Ki Hajar Dewantara Merdeka Belajar
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top