Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Alasan Ganjar Tetap Jadikan Wadas Lokasi Tambang Andesit

Penentuan Wadas sebagai lokasi tambang andesit telah melalui kajian yang komprehensif.
Edi Suwiknyo
Edi Suwiknyo - Bisnis.com 18 Februari 2022  |  14:14 WIB
Aparat kepolisian tangkap warga Desa Wadas - IG @wadas_melawan
Aparat kepolisian tangkap warga Desa Wadas - IG @wadas_melawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo menjelaskan alasan pemerintah tetap ngotot untuk menambang batu andesit di Desa Wadas, Purworejo.

Selain telah melalui kajian komprehensif dari banyak ahli, penambangan di Wadas juga memperhitungkan aspek praktis dan ekonomis.

Menurutnya, jarak antara Bendungan Bener dengan lokasi penambangan batu andesit relatif lebih dekat. Hal itu membuat wilayah Wadas menjadi tempat yang paling memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan material pembangunan Bendungan Bener.

Kendati demikian, Ganjar juga mengakui bisa saja pemerintah memperoleh batu andesit dari luar Wadas. Namun untuk mendapatkan batu dari tempat lain, selain jarak yang jauh, biayanya menjadi tidak efisien.

"Dari semua perhitungan teknis, itu kemudian ditentukan Wadas," ujarnya, Kamis (17/2/2022).

Ganjar menambahkan pemerintah tetap menargetkan Bendungan Bener tetap bisa diselesaikan sesuai target yakni pada tahun 2023. Pemerintah, kata dia, akan berupaya secepat mungkin untuk mengatasi masalah yang terjadi dalam pembangunan Bendungan Bener.

"Ya harus, harus selesai 2023," tukasnya.

Kebutuhan Batu Wadas

Kepala Bidang Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Yosiandi Radi Wicaksono, mengatakan batu andesit itu dibutuhkan untuk struktur luar yang memperkuat konstruksi Bendungan Bener.

“Batu andesit ini nanti untuk bahan timbunan main dam Bendungan Bener. Jadi batu ini dimanfaatkan untuk timbunan batuan,” ucapnya dalam tayangan Top News Metro TV, dikutip pada Jumat (11/2/2022).

Dia menambahkan, menurut hasil kajian yang dilakukan sebelumnya, struktur geologi di kawasan Bendungan Bener tidak cocok dengan desain bendungan beton. Apalagi bendungan tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia, sehingga membutuhkan material penguat, seperti batuan andesit.

“Kondisi struktur geologi di main dam Bendungan Bener ini kurang cocok dengan desain bendungan beton. Hasil studi yang sudah dilakukan BBWS sebelumnya lebih cocok menggunakan timbunan batu andesit kurang lebih sekitar 8,5 juta meter kubik,” ucap Yosiandi.

Lebih jauh, berdasarkan hasil kajian pula, material batu andesit dari Desa Wadas dinilai sangat cocok untuk konstruksi bendungan tersebut.

Sementara itu, dalam berbagai refensi, tanah surga di Bumi Wadas mengandung sekitar 40 juta meter kubik batu andesit. Lokasinya juga tidak begitu jauh dari proyek Bendungan Bener yang mana berjarak sekitar 10-12 kilometer. Hal inilah yang membuat pelaksana proyek memilih melakukan penambangan terbuka di kawasan Desa Wadas.

“Kebutuhan kami untuk batuan andesit ini sekitar 8,5 juta meter kubik. Kebetulan hasil studi kami Desa Wadas memiliki tampungan batu andesit yang banyak, sekitar 40 juta meter kubik dan lokasinya yang terdekat dengan Bendungan Bener. Sebenarnya ada alternatif lain, selisih sekitar 5 km dan tampungannya tidak banyak. Maka berdasarkan alternatif studi itu kami kembali memutuskan memanfaatkan Desa Wadas untuk mengambil batu andesit,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan penambangan nanti, pengelola proyek akan membangun jalan khusus untuk memudahkan distribusi batu andesit dari Desa Wadas ke bendungan. Jadi, nantinya akan ada jalur tersendiri yang menghubungkan tapak bangunan dengan Desa Wadas yang akan ditambang selama dua hingga tiga tahun ke depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ganjar pranowo wadas
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top