Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Visa Warganya Dibatasi, Aljazair Tarik Dubes dari Prancis

Prancis memutuskan untuk memangkas jumlah visa yang dikeluarkan untuk warga negara Aljazair dan negara-negara lain wilayah Afrika Utara.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 03 Oktober 2021  |  06:52 WIB
Wisata Prancis.  - Istimewa
Wisata Prancis. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Aljazair memanggil pulang Duta Besar untuk Prancis guna berkonsultasi setelah negara Eropa itu membatasi visa untuk warga negara tersebut.

Namun demikian, pihak kantor presiden menyatakan pada bahwa pernyataan tentang masalah tersebut akan dikeluarkan kemudian.

Pada Kamis, pemerintah menyatakan telah memanggil Duta Besar Prancis untuk Aljazair setelah Paris memutuskan untuk memangkas jumlah visa yang dikeluarkan untuk warga negara Aljazair dan negara-negara lain wilayah Afrika Utara.

“Kami akan mengurangi jumlah visa secara signifikan,” kata Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin di Paris pada Rabu lalu.

Jumlah visa yang dikeluarkan untuk Aljazair dan Maroko akan dikurangi 50 persen, sementara visa yang diberikan untuk warga negara Tunisia akan dikurangi dua pertiganya, tambahnya seperti dikutip Aljazeera.com, Minggu (3/10).

Kementerian Luar Negeri Aljazair menggambarkan langkah tersebut sebagai keputusan sepihak dari pemerintah Prancis. 

Migrasi penduduk telah menjadi masalah utama di antara kubu konservatif dan sayap kanan menjelang kampanye pemilihan umum di Prancis.

Kandidat presiden sayap kanan Prancis, Marine Le Pen memberikan dukungan yang memenuhi syarat untuk pengurangan visa bagi warga asing, tetapi mengatakan pemerintah Presiden Emmanuel Macron menunggu terlalu lama sebelum bertindak.

Le Pen adalah saingan utama Macron dalam pemilihan umum 2017 dan dipandang sebagai lawan utamanya.

Sementara jtu, Menteri Luar Negeri Maroko, Nasser Bourita Selasa lalu mengecam keputusan Prancis dan menyebutnya sebagai "tidak dapat dibenarkan".

Bourita mengatakan negaranya telah mengeluarkan 400 dokumen konsuler kepada warga Maroko yang diusir dari Prancis, tetapi jumlahnya terbatas karena banyak dari mereka menolak untuk mengikuti tes virus Corona, yang diperlukan untuk masuk kembali ke Maroko.

"Itulah masalah yang harus diatasi Prancis”, kata Bourita dalam konferensi pers di ibu kota Rabat.

Sedangkan Tunisia mengambil sikap publik yang lebih mendamaikan. Kantor Presiden Kais Saied menyatakan “Kami termasuk di antara negara-negara yang kooperatif dalam domain ini, dan kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan Prancis.”
.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis afrika aljazair

Sumber : Aljazair.com

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top