Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Taliban Janji Hormati Hak Wanita Afganistan Sesuai Syariah Islam

Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid berjanji akan menghormati hak wanita Afganistan asalkan sesuai syariah Islam. Perempuan boleh bekerja dan sekolah?
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 18 Agustus 2021  |  09:53 WIB
Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid - BBC
Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid - BBC

Bisnis.com, JAKARTA - Taliban berjanji menghormati hak-hak wanita Afganistan sesuai dengan kerangka hukum Islam atau syariah Islam.

Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid saat konferensi pers pertama kali sejak kelompok tersebut mengambil alih Afganistan pada Minggu (15/8/2021).

"Perempuan boleh bekerja. Namun, semua warga Afghanistan harus hidup dalam kerangka hukum [syariah] Islam," kata Zabihullah Mujahid seperti dilansir dari BBC, Rabu (18/8/2021).

Kelompok sayap kanan atau pembela hak asasi di Afganistan khawatir kebebasan perempuan bisa terkikis di bawah rezim Taliban.

Pasalnya, Taliban memperkenalkan atau mendukung hukuman sesuai dengan interpretasi ketat mereka terhadap sistem hukum Islam atau syariah, ketika mereka menguasai Afghanistan antara 1996-2001.

Kala itu, pemerintahan Taliban menetapkan wanita harus mengenakan burka yang menutupi semua tubuhnya. Bukan itu saja, Taliban juga tidak menyetujui anak perempuan berusia 10 tahun ke atas pergi ke sekolah.

Dalam jumpa pers Selasa kemarin, Mujahid menjawab beberapa pertanyaan dari media internasional tentang seperti apa hak-hak perempuan di bawah pemerintahan Taliban.

"Kami akan mengizinkan perempuan untuk bekerja dan belajar dalam kerangka kerja kami. Perempuan akan sangat aktif dalam masyarakat kami," imbuhnya.

Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut ketika ditanya tentang aturan berpakaian dan peran apa yang dapat dimiliki wanita dalam angkatan kerja negara itu.

Analis mengatakan kelompok itu menjalankan kampanye humas (PR campaign) yang canggih dalam upaya untuk memenangkan hati dan pikiran warga Afghanistan dan masyarakat internasional. Sayangnya, pesan dari penguasa baru telah diterima dengan perasaan campur aduk di Afghanistan.

"Saya tidak percaya apa yang mereka [Taliban] katakan," kata seorang wanita di Kabul yang menyaksikan Mujahid berbicara di televisi kepada BBC.

Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan tipu muslihat. Taliban justru membujuk wanita keluar untuk dihukum. Perempuan lain mengaku menolak untuk belajar atau bekerja di bawah hukum Taliban.

Namun, beberapa orang lain melihat beberapa janji awal rezim Taliban.

Seorang wanita Afganistan mengatakan jika dia bisa bekerja dan mendapatkan pendidikan, itulah definisi kebebasan baginya. Menurutnya, garis merah itu belum dilintasi oleh Taliban.

"Selama hak saya untuk belajar dan bekerja dilindungi, saya tidak keberatan mengenakan jilbab. Saya tinggal di negara Islam dan saya bersedia menerima aturan berpakaian Islami, selama itu bukan burqa karena itu bukan aturan berpakaian Islami," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

islam taliban afganistan
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top