Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Capres 2024, Berada di 10 Besar Mahfud Tidak Peduli

Pada Pilpres 2019 lalu, Mahfud nyaris menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo sebagai inkumben.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Juni 2021  |  12:37 WIB
Mahfud MD melambaikan tangannya saat berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Mahfud MD melambaikan tangannya saat berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemilihan presiden 2024 masih tiga tahun lagi. Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil sigi yang menunjukkan calon presiden potensial menuju Pilpres 2024.

Salah satu yang masuk radar adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.

Pada Pilpres 2019 lalu, Mahfud nyaris menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo sebagai inkumben.

Namun pada menit-menit terakhir keputusan berubah karena partai koalisi penyokong Jokowi menginginkan Ma'ruf Amin jadi cawapres. Setelah menang Pilpres, Jokowi menunjuk Mahfud mengisi posisi Menkopolhukam, yang sebelumnya diisi oleh Wiranto.

Menuju Pilpres 2024, nama Mahfud kembali masuk radar. Ia berada di kandidat 10 besar versi sejumlah lembaga survei.

Berdasarkan survei Charta Politik yang dirilis Maret lalu, dalam simulasi 12 nama, Mahfud berada di posisi ke delapan dengan 3,8 persen. Di bawahnya ada Menteri BUMN Erick Thohir 2,1 persen dan KSP Moeldoko 1,3 persen.

Sementara itu, tiga menteri lain lebih unggul dari Mahfud yakni Prabowo Subianto 19,6 persen, Sandiaga Uno 9,3 persen, Tri Rismaharini 5,3 persen.

Versi Puspoll Indonesia Mei lalu, elektabilitas Mahfud di peringkat 10 dari 22 tokoh capres potensial, dengan angka 1,8 persen.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai Mahfud masih punya potensi dilirik partai. Namun, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu harus berusaha keras meningkatkan elektabilitas.

"Apakah dia bisa memunculkan diri dan menaikkan elektabilitasnya, itu tergantung dari kinerja Mahfud sendiri. Jika tak bisa, maka akan hilang dari persaingan," ujar Ujang, Senin malam, 7 Juni 2021.

Menurut Ujang, belakangan publik kurang menyukai Mahfud karena terlalu terdepan membela kebijakan-kebijakan Presiden Jokowi.

"Padahal publik banyak yang kecewa pada Jokowi. Makanya tak heran, survei Mahfud dalam hal capres pun kecil. Berbeda ketika 2019 yang lalu, dimana Mahfud MD sangat disukai publik dan hampir dipercaya menjadi cawapres," ujar dia.

Mahfud sendiri pernah menyebut bahwa dirinya tak ambil pusing dengan hasil survei capres potensial menuju Pilpres 2024. "Survei itu untuk hiburan aja bukan diseriusi. Bagi saya survei-survei itu, apalagi sekarang, terlalu prematur," kata Mahfud, Februari lalu.

Mahfud MD berujar tidak tertarik membahas lebih jauh soal survei elektabilitas.

"Jadi saya tidak tahu sebenarnya saya ini masuk di ranking berapa, bahkan masuk atau tidak pun saya tidak tahu karena saya tidak ingin tahu juga. Kalau Anda bilang saya masuk ke ranking sekian, ya, saya juga tidak tertarik untuk membahasnya," ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

mahfud md Pilpres 2024

Sumber : Antara

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top