Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Simulasi Peta Koalisi dan Peluang Capres 2024 Versi Pengamat

Data hasil survei Voxpol Center yang menunjukkan sebesar 40,6 persen menginginkan Pilpres 2024 diikuti lebih dari 2 (dua) pasang capres/cawapres.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 31 Mei 2021  |  08:02 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY memberikan keteranagan usai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kamis (6/5/2021). - Nyoman Ary Wahyudi
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY memberikan keteranagan usai bertemu dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kamis (6/5/2021). - Nyoman Ary Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA—Meski tahapan pemilihan presiden (Pilpres) masih sekitar dua tahun lagi, dinamika politik menuju Pilpres 2024 terus bergulir.

Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago memperkirakan bakal ada tiga poros yang cukup potensial pada Pilpres 2024.

Dia menggunakan asumsi dari data hasil survei Voxpol Center yang  menunjukkan sebesar 40,6 persen menginginkan Pilpres 2024 diikuti lebih dari 2 (dua) pasang capres/cawapres. 

Pangi menilai positif kalau pasangan capres lebih dari dua sehingga tidak terulang rematch pilpres bipolar yang mengakibatkan keterbelahan publik. Alasannya tidak ada capres alternatif sebagai pemecah gelombang dua kutub tersebut.

Selain itu, katanya, jika merujuk pada pemilu sebelumnya, sudah dapat dipastikan "otoritas tiket" hanya akan dimonopoli partai-partai papan atas. Karena itu, nama-nama yang berseliweran hari ini pada lembaga lembaga survei hanya akan menjadi hiasan di pemberitaan media dan akan hilang bahkan sebelum "pestanya" dimulai, katanya dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (30/5/2021).  

“Saya ingin katakan begini, elektabilitas itu bukan kunci untuk mendapatkan tiket pencapresan. Silakan Anies Baswedan tinggi elektabilitasnya, silahkan Ganjar Pranowo tinggi elektabilitasnya, silahkan Ridwan Kamil tinggi elektabilitasnya tapi tetap nama-nama yang bakal keluar dari saku kantong, mutlak pada partai yang menentukan,” kata Pangi. Karena itu tidak usah heran, katanya, 

Karena itu dia mengatakan akan ada nantinya capres kagetan karena publik terkaget bahkan bukan tidak mungkin nama-nama capres itu di luar cluster kepala daerah, menteri dan ketua umum parpol. 

Atas dasar itu bisa saja  muncul tiga poros pada Pilpres 2024 nantinya. 

Pangi berpendapat, poros pertama adalah koalisi PDIP-Gerindra-PKB dengan simulasi mengusung pasangan capres Prabowo Subianto dan Puan Maharani. Sedangkan poros kedua adalah koalisi partai Nasdem-PKS-Demokrat dengan simulasi pasangan capres Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Poros ketiga, ujarnya, koalisi alternatif partai Golkar-PPP-PAN dengan simulasi pasangan bisa nama-nama seperti Airlangga Hartarto dan Erick Tohir, terlepas dari partai mana yang nanti meminangnya menjadi capres termasuk nama Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil. 

Pangi menilai munculnya skenario seperti di atas adalah akibat pemberlakuan ambang batas presiden yang pada akhirnya membunuh talenta-talenta potensial dan menyisakan ruang permainan hanya berputar-putar pada permainan tingkat partai papan atas sebagai otoritas pemegang kendali  pemberian "tiket" pencapresan pada siapa diinginkan melalui lobi-lobi politik belakang layar.

“Publik hanya menjadi penonton dan dipaksa memilih pada pilihan yang terbatas. Kata kuncinya pada otoritas tiket partai sehingga  elektabilitas racikan elektoral yang tinggi seakan-akan tidak berguna,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

capres Pilpres 2024
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top