Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banjir Bandang di NTT, Pengungsi di Lembata Kekurangan Bantuan

Pasokan bantuan bagi pengungsi korban bencana banjir bandang, Minggu (4/4/2021), terhambat oleh kondisi laut.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 April 2021  |  18:45 WIB
Banjir bandang di Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Minggu (4/4/2021) dini hari tadi. - Dok. BPBD Kabupaten Flores Timur\r\n
Banjir bandang di Kabupaten Flores Timur, NTT, pada Minggu (4/4/2021) dini hari tadi. - Dok. BPBD Kabupaten Flores Timur\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, yang terpaksa mengungsi akibat bencana banjir bandang, Minggu (4/4/2021), dilaporkan sama sekali belum mendapatkan pasokan bantuan.

Kabupaten Lembata merupakan satu dari sejumlah satu daerah yang terdampak banjir bandang di NTT.  Noni, salah satu relawan dari Yayasan Plan Indonesia, yang ada di lokasi kejadian, mengatakan bahwa pasokan bantuan tersebut terhambat oleh kondisi laut.

"Untuk saat ini bantuan belum ada sama sekali karena terhambat kondisi laut. Setahu saya belum ada kapal masuk dari luar," ujar saat dihubungi Tempo, Senin (5/4/2021).

Noni mengatakan saat ini, bantuan masih bertumpu pada uluran tangan masyarakat sekitar dan keluarga korban yang tak ikut terdampak bencana banjir.

Para pengungsi, saat ini lebih banyak dipusatkan di Kantor Lurah di Lewoleba, dan Kantor Camat Ile Ape.

Para pengungsi, kata dia, membutuhkan bantuan makanan dan minuman. Selain itu, yang juga darurat dibutuhkan adalah pakaian layak pakai untuk anak-anak. Termasuk bagi anak perempuan pakaian dalam, pembalut, selimut, tikar, hingga alat tidur.

"Karena mereka tidur di lantai saja dengan alat tidur seadanya," kata Noni.

Noni mengatakan banjir bandang terjadi pada dini hari waktu setempat. Cuaca ekstrim membuat banjir melanda daerah di pulau tersebut. Wilayah yang paling parah terdampak, ada di pesisir pantai yang berada di bawah bukit Gunung Ile Lewotolok yang baru saja erupsi pada November 2020 lalu.

Banjir bandang akhirnya membawa sebagian bebatuan besar dari bukit ke arah pemukiman warga. Menurut Noni, hal ini lah yang membuat wilayah tersebut hancur.

"Ada sebagian masyarakat mengira itu bunyi dari gunung itu. Selama ini kan gempa tektoniknya kan sering. Jadi banyak batu-batuan di kaki gunung sudah ga kuat dan sangat rawan tanahnya. Makanya ada yang bilang ini lahar dingin, ada yang bilang banjir bandang.” kata Noni.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan data korban jiwa bencana alam di NTT pada Minggu petang sebanyak 41 orang. Jumlah korban masih terus bertambah seiring pencarian yang masih dilakukan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ntt bencana alam

Sumber : Tempo

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top