Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Percepat Laju Vaksinasi, Strategi Beli Dua Gratis Satu Dipasang

Menkes membuka peluang pemberian vaksin Covid-19 kepada anak muda dengan syarat wajib membawa dua warga lanjut usia (lansia) untuk ikut divaksin.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 28 Maret 2021  |  14:52 WIB
Petugas Kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gelanggang Olahraga Remaja Pekanbaru, Riau, Senin (1/3/2021). - Antara
Petugas Kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Gelanggang Olahraga Remaja Pekanbaru, Riau, Senin (1/3/2021). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyiapkan strategi tersendiri untuk mempercepat laju penyuntikan vaksin Covid-19 di Tanah Air.

Strategi yang disiapkan tak ubahnya promosi belanja yang lazim ditemukan di pusat perbelanjaan, beli dua gratis satu.

Budi menyatakan pihaknya membuka peluang pemberian vaksin Covid-19 kepada anak muda dengan syarat wajib membawa dua warga lanjut usia (lansia) untuk ikut divaksin.

Dengan adanya strategi tersebut diharapkan program vaksinasi nasional bisa rampung sesuai target, yakni Januari-Maret 2022.

"Jadi saya nanti akan segera mengeluarkan kebijakan. Satu orang muda relawan boleh disuntik [vaksin Covid-19] asal bawa dua orang lansia, karena orang tua susah untuk diajaknya," katanya di Depok, Kamis (25/2).

Budi juga mengatakan bahwa upaya tersebut dilakukan agar vaksinasi Covid-19 kepada lansia bisa rampung lebih awal. Seperti diketahui, lansia merupakan kelompok yang rentan terpapar dan menyumbang angka kematian Covid-19 tertinggi di Indonesia.

“Orang tua berisiko tinggi, itu harus disuntik awal. Di Indonesia lansia itu kalah kalau rebutan, kalah sama wartawan, kalah sama politisi, karena mereka kurang bisa bertarung. Jadi tolong dibantu orang tua, nenek, kakek kita," tegasnya.

Kemudian, terkait dengan target 1 juta vaksinasi Covid-19 per hari, Budi mengungkapkan bahwa pihaknya akan meningkatkan laju vaksinasi harian secara bertahap sesuai dengan ketersediaan vaksin. Dia menegaskan bahwa pemerintah telah 426,8 juta dosis vaksin untuk vaksinasi 181,5 juta penduduk Indonesia.

“Untuk Maret dan April ada 15 juta per bulan. Jadi kalau dibagi tiga 30 hari 500.000 per hari. Barulah di Bulan Mei sampai Juni naik ke 25 juta dosis, sehingga bisa dilakukan penyuntikan sampai 750 ribu per hari. Mulai bulan Juli itu 50 juta, sehingga bisa dilakukan penyuntikan 1,5 juta per hari,'' tuturnya.

Secara terpisah, Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa pihaknya masih menyiapkan mekanisme vaksinasi Covid-19 bagi anak muda yang membawa dua orang lansia untuk divaksin. Kebijakan vaksinasi terbaru itu akan berlaku mulai April 2021 atau setelah gelombang kedua vaksinasi dimulai.

“Ini sudah dimatangkan dulu pelaksanaannya, tetapi tentunya [kami] menghimbau untuk kita saling membantu, terutama lansia. Untuk saat ini, anak muda [yang] mendapatkan vaksin hanya kategori pelayan publik dan tenaga kesehatan,” katanya kepada Bisnis (26/3/2021).

Menurut Nadia, nantinya anak muda yang tak masuk dalam kategori pelayan publik atau tenaga kesehatan berhak mendapatkan vaksin asalkan membawa setidaknya dua orang lansia untuk divaksin. Sebagai contoh adalah seorang anak yang mengantarkan orang tuanya untuk vaksinasi Covid-19.

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono berharap kebijakan tersebut akan menyadarkan masyarakat bahwa lansia adalah kelompok masyarakat yang harus mendapatkan prioritas vaksinasi Covid-19.

Vaksinasi terhadap lansia merupakan upaya efektif untuk menekan angka kematian dan beban fasilitas kesehatan.

“Belum semua unsur pemerintah dan masyarakat sadar bahwa kalau kita prioritaskan lansia dapat menekan beban pandemi, khususnya rumah sakit dan kematian. Pihak swasta juga belum peduli karena ingin lebih cepat divaksinasi. Mereka akan dapat giliran kok bila lansia diprioritaskan,” katanya kepada Bisnis (26/3).

Lebih lanjut, menurut Pandu kebijakan tersebut perlu diiringi oleh sosialisasi yang lebih gencar mengenai pentingnya vaksinasi Covid-19 dan keamanannya. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir ada produk vaksin yang menjadi perdebatan publik lantaran keamanan dan kehalalan kandungannya diragukan.

Ketersediaan Vaksin

Sementara itu, peneliti Global Health Security and Policy, Center for Environment and Population Health, Griffith University, Australia, Dicky Budiman menilai kebijakan tersebut harus diiringi oleh ketersediaan vaksin yang memadai. Pemerintah tidak bisa serta merta menambah sasaran vaksinasi dengan dalih mempercepat laju vaksinasi.

Pasalnya, keberhasilan program vaksinasi Covid-19 juga bergantung pada sasaran penerima vaksin. Pemberian vaksin kepada kelompok masyarakat yang dinilai rentan tentunya harus diprioritaskan untuk menekan penyebaran dan beban fasilitas kesehatan akibat penambahan pasien secara terus-menerus.

“[Pemberian vaksin] harus berbasis strategi kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan, pekerja esensial, terutama lansia komorbid ini harus dipastikan apakah ketersediaan vaksin bagi mereka sudah memadai. Untuk anak muda ini tentunya harus dikalkulasi kembali,” katanya kepada Bisnis.

Kemudian yang tak kalah penting adalah pemerintah juga diminta untuk memperhatikan pelaksanaan vaksinasi di daerah. Belum maksimalnya transparansi vaksinasi di level daerah yang membuat masyarakat bingung hingga akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

menkes vaksinasi Vaksin Covid-19
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top