Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Tidak Ubah Posisinya Terkait Perjanjian Nuklir Iran

Kesepakatan 2015 membuat Teheran membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  11:32 WIB
Fasilitas pengayaan nuklir Iran di Natanz - Reuters/Presidential Official Website/Handout
Fasilitas pengayaan nuklir Iran di Natanz - Reuters/Presidential Official Website/Handout

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat (AS) belum mengubah posisinya terkait rencana kembalinya negara itu kepada Kesepakatan Nuklir Iran 2015, ujar seorang juru bicara Departemen Luar Negeri.

Pihak AS menegaskan, bahwa Teheran harus melakukan langkah pertama sebelum Washington siap untuk bergabung kembali dengan pakta tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menyarankan bahwa seorang pejabat Uni Eropa dapat "menyinkronkan" atau "mengordinasikan" upaya Iran dan AS untuk kembali pada kepatuhan penuh terhadap kesepakatan yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).

Ketika ditanya tentang proposal Zarif untuk sinkronisasi kesepakatan itu, Juru Vicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price mengatakan kepada wartawan, bahwa AS siap untuk berjalan di jalur diplomasi, jika Iran melanjutkan kepatuhan penuh dengan perjanjian tersebut.

“Jika menyangkut proposal yang telah dibicarakan di atas meja, saya akan kembali ke proposal tersebut,” kata Price seperti dikutip Aljazeera.com, Rabu (3/2/2021).

Kesepakatan 2015 membuat Teheran membatasi program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi.

Mantan Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian pada 2018 dan memberlakukan sanksi tekanan maksimum terhadap Teheran. Akibatnya, Iran tidak patuh lagi pada ketentuan kesepakatan tentang pengayaan dan penimbunan uranium.

Pemerintahan Biden telah menjadikan kembali ke perjanjian semula dengan mengatakan hal itu penting untuk menahan ambisi nuklir Iran.

Pekan lalu, Biden menunjuk Robert Malley, yang berperan penting dalam negosiasi JCPOA di bawah mantan Presiden Barack Obama, sebagai utusan khusus untuk Iran.

Penasihat keamanan nasional Biden, Jake Sullivan, dan calon wakil menteri luar negeri, Wendy Sherman, juga merupakan negosiator kunci dalam kesepakatan Iran.

Akan tetapi, setelah menjabat pekan lalu, Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan masih ada jalan panjang di depan dan setiap terobosan harus datang dari Teheran.

Dalam sebuah wawancara yang dirilis pada hari Senin (1/2/2021), Blinken mengatakan, Iran mungkin hanya beberapa bulan lagi mampu membuat bom nuklir, jika terus mencabut batasan yang diatur dalam kesepakatan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat nuklir iran
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top