Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sengketa Laut China Selatan, Menlu AS Tegaskan Bela Negara Asean

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan klaim China atas Laut China Selatan berada di luar persetujuan hukum internasional.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  19:29 WIB
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J Blinken - Antara Fotot/Puspa Perwitasari
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony J Blinken - Antara Fotot/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat menyatakan dukungannya kepada negara-negara Asia Tenggara degan menolak klaim China atas Laut China Selatan.

Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin, Rabu (27/1/2021) waktu setempat dan dikutip dari pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.

Menurutnya, klaim China atas Laut China Selatan berada di luar persetujuan hukum internasional. Dia pun menegaskan keberpihakan Amerika Serikat kepada negara-negara Asean untuk melawan tekanan China.

Dia juga menekankan mengenai pentingkan perjanjian pertahanan yang telah ada sejak lama antara negara sekutu, dan juga penerapannya jika suatu saat Filipina diserang di kawasan Laut China Selatan.

"Menteri Blinken berjanji untuk berpihak kepada negara claimants [yang mengklaim area di kawasan sengketa, red] dalam menghadapi tekanan RRC," menurut keterangan kementerian, merujuk pada Republik Rakyat China.

Menteri Blinken juga menekankan pentingnya Traktat Pertahanan Bersama untuk keamanan kedua negara serta penerapannya secara jelas terhadap serangan bersenjata melawan pasukan bersenjata Filipina, kapal publik, atau pesawat di Pasifik, termasuk Laut China Selatan.

Jaminan dari Blinken itu dinyatakan setelah Locsin menyebut bahwa Filipina telah menyampaikan nota diplomatik untuk memprotes pengesahan hukum di China yang dapat memungkinkan keamanan laut negara itu menembak kapal asing.

Locsin menyebut hukum China itu sebagai 'ancaman perang'. China mengesahkan peraturan tersebut pada Jumat (22/1/2021), mengizinkan pasukannya untuk menggunakan 'semua langkah yang diperlukan' untuk menghentikan atau mencegah ancaman dari kapal-kapal asing, termasuk menghancurkan bangunan negara lain yang berlokasi di perairan yang diklaim China.

Di Laut China Selatan--yang juga rute perdagangan utama, China mengklaim hampir seluruh area yang kaya akan sumber energi. Sementara Filipina, Brunei, Vietnam, dan Malaysia adalah negara di Asean yang mempunyai klaim tumpang tindih di kawasan.

Taiwan, yang dianggap China sebagai bagian dari negaranya namun menganggap dirinya sebagai negara sendiri, juga ikut mengklaim area di kawasan perairan sengketa tersebut.

AS telah mengirimkan sekelompok kapal perang melalui kawasan dengan tujuan yang disebutnya sebagai "kebebasan di perairan" Laut China Selatan. China, di sisi lain, mengatakan pada Selasa (26/1/2021) bahwa pihaknya akan menyelenggarakan latihan militer sendiri dalam pekan ini.

Juru Bicara Presiden Filipina Rodrigo Duterte, sebelumnya pada Senin (25/1/2021), mengatakan Filipina berharap tidak ada satupun negara yang akan melakukan aksi untuk meningkatkan ketegangan di kawasan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat filipina asean laut china selatan

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top