Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Ancam Turki atas Kerja Sama Militer dengan Rusia, Ini Responsnya

Turki menilai langkah AS dan sejumlah negara lainnya itu sebagai tindakan yang bertentangan dengan hak kedaulatan mereka.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  07:55 WIB
Menteri Luar Negeri Turki Mevlt avusoglu (kiri) berbincang dengan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam kunjungannya ke Indonesia, Selasa (22/12/2020) - Dok./Kemenlu.
Menteri Luar Negeri Turki Mevlt avusoglu (kiri) berbincang dengan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam kunjungannya ke Indonesia, Selasa (22/12/2020) - Dok./Kemenlu.

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri luar negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengecam ancaman sanksi lebih lanjut dari Amerika Serikat dan negara Barat terhadap Ankara atas kerja sama militernya dengan Rusia.

Turki menilai langkah AS dan sejumlah negara lainnya itu sebagai tindakan yang bertentangan dengan hak kedaulatan mereka.

Pernyataan itu disampaikan Cavusoglu saat bertemu dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov. Kedunya bersumpah untuk terus maju dengan memperkuat hubungan militer antara kedua negara seperti dikutip Aljazeera.com, Rabu (30/12/2020).

Kedua pejabat tinggi itu bertemu di kota resor Rusia Sochi untuk membahas masalah regional dan internasional menjelang pertemuan yang direncanakan antara presiden Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan di bawah Dewan Kerja Sama Rusia-Turki.

Sejumlah masalah bilateral yang dibahas termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir dan pengembangan lebih lanjut pipa gas TurkStream.

Kerja sama militer dengan Ankara itu juga dipuji oleh Moskow meskipun ada sanksi dari AS di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA). Undang-undang tahun 2017 yang melarang ekspor industri pertahanan Rusia serta sanksi atas pembelian senjata oleh Turki dinilai sebagai upaya untuk mempromosikan kepentingan industri AS dengan bantuan metode yang tidak adil.

Turki dan Rusia menghadapi sanksi negara Barat karena menggunakan kedaulatan mereka. “Itu (sanksi terhadap industri pertahanan Turki) bertentangan dengan hak kedaulatan kami. Kami tidak akan menyerah pada niat kami,” kata Cavusoglu.

Hubungan militer yang meningkat antara Turki dan Rusia bertentangan dengan keinginan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan berisiko menyebabkan keretakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan aliansi tersebut.

Namun, Cavusoglu menunjukkan bahwa kemitraan antara Turki dan Rusia tidak akan mengganggu aliansi NATO. Baik Washington maupun NATO prihatin bahwa aktivasi sistem pertahanan Rusia oleh Turki dapat memberikan Kremlin pandangan orang dalam pada kemampuan pertahanan aliansi di kawasan tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat rusia turki
Editor : Oktaviano DB Hana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top