Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hindari Stigma Negatif Penyintas, Yuk! Lawan Covid-19 Bersama-Sama

Orang tua Intan menjalani isolasi mandiri selama dua minggu setelah terkonfirmasi Covid-19. Namun, di hari ke-15, tiba-tiba jalan ke rumahnya ditutup. Tak ada kabar dari pengurus RT mengapa hal itu bisa terjadi.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 30 November 2020  |  20:17 WIB
Ilustrasi - Sejumlah warga yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 saat dipulangkan dari tempat karantina di Asrama Haji Surabaya. - Antara/Pemkot Surabaya
Ilustrasi - Sejumlah warga yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 saat dipulangkan dari tempat karantina di Asrama Haji Surabaya. - Antara/Pemkot Surabaya

Bisnis.com, JAKARTA - Unggahan Intan Kurnia Sari ramai di media sosial. Akses jalan di samping rumahya ditutup oleh sisa-sisa bahan bangunan mulai dari kayu hingga atap rumah. Dia tak bisa ke mana-mana.

Melalui akun pribadinya @intanmomgav pada 12 November lalu, Intan mempertanyakan perlakuan warga kepada keluarganya. Orang tuanya menjalani isolasi mandiri selama dua minggu setelah terkonfirmasi Covid-19

Dia merupakan orang tanpa gejala (OTG) atau mengalami kontak erat dan memilih tidak perlu dirawat di rumah sakit. Intan pun menjalani karantina karena khawatir terpapar dan tidak mau menulari orang lain.

Akan tetapi di hari ke-15 tiba-tiba jalan ditutup. Tak ada kabar dari pengurus RT mengapa itu bisa terjadi.

“Sedangkan dari PKM [Puskesmas] setempat sudah menyatakan saat ini orang tua saya dinyatakan sehat dan hanya menunggu surat keterangan sehat dari PKM,” tulis Intan.

Pengalaman pahit yang dialami Intan berbeda dengan pengalaman keluarga lain. Penyintas sekeluarga Covid-19, Stevanus Grandy Budiawan mendapat perlakuan yang membantunya menjalani penyembuhan mandiri.

Saat terkonfirmasi positif, dia mengabari pengurus RW melalui pesan instan bahwa sekeluarganya terjangkit. Di perumahannya, dia adalah orang pertama yang terserang Corona.

Para tetangga memperlakukannya dengan baik. Stevanus dan sekeluarga tidak pernah kekurangan makan dan obat-obatan. Setiap hari terus mengalir bantuan.

“Mungkin shock juga, ternyata bisa terjadi, karena kami yang pertama di kompleks. Yang disukuri dukungan dari tetangga luar biasa,” ceritanya melalui diskusi virtual.

Stigma negatif berdampak buruk pada penanganan Corona. Managing Director IPSOS Indonesia Soeprapto Tan menuturkan peran pemerintah dalam memberikan edukasi agar masyarakat tidak mengucilkan penyintas Covid-19 sangat penting.

Minimnya pemahaman tersebut dapat membuat kampanye 3T atau tracing (pelacakan), testing (pengetesan), dan treatment (perawatan) terhambat. Padahal, hal itu penting untuk memperluas deteksi jangkauan warga positif. Dengan begitu dapat dilakukan perawatan segera.

IPSOS Indonesia mencatat 29 persen masyarakat yang tidak paham 3T. Sebaliknya, 99 persen masyarakat mengaku paham terhadap penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak).

Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah. Padahal, kenyataannya justru kedua hal tersebut merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Kampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T,” ucapnya.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan salah satu cara memutus mata rantai penularan adalah dengan melakukan pemeriksaan, pelacakan dan perawatan yang tepat kepada pasien yang tertular. Namun, pemeriksaan dan pelacakan ternyata tidak mudah dilakukan karena terjadi penolakan di masyarakat.

Dia menduga fenomena ini terjadi karena di masyarakat masih berkembang stigma negatif bagi penderita Covid-19, masyarakat takut divonis tertular. Padahal, masyarakat tak perlu takut karena mayoritas penderita Covid-19 sembuh.

Menilai penularan Covid-19 yang makin cepat diketahui akan memudahkan pasien menjalani pemulihan. Namun sebaliknya, bila terlambat, risiko tingkat kematian akan semakin tinggi, apalagi bila pasien juga memiliki penyakit bawaan.

“Jadi tidak ada alasan bagi masyarakat untuk menolak pelacakan kontak, penanganan kesehatan adalah sebuah kerja kemanusiaan,” katanya.

Covid-19 jangan dianggap sebagai momok yang menakutkan. Dukungan dari orang lain dibutuhkan sebagai penyembuhan dari sisi psikologi. Selagi menerapkan 3M dan 3T, penyebaran bisa ditekan. Seperti yang dikatakan Doni, penderita Corona bisa sembuh.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Covid-19
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top