Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Daftar Perusahaan Zombie di AS Merangkak Naik. Boeing dan Exxon Masuk Kategori

Di Amerika Serikat (AS), jumlah perusahaan zombie semakin membengkak. Dari Boeing Co., Carnival Corp., Delta Air Lines Inc. hingga Exxon Mobil Corp. dan Macy's Inc., tidak memperoleh penghasilan yang cukup untuk menutupi biaya bunga utang mereka.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 18 November 2020  |  03:22 WIB
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati.  - Boeing
Boeing 737 MAX yang merupakan pesawat buatan Boeing yang paling banyak diminati. - Boeing

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan- perusahaan ini pernah menjadi raksasa korporasi di Amerika Serikat. Sayangnya, perusahaan-perusahaan ini semakin mirip seperti 'zombie'.

Di Amerika Serikat (AS), jumlah perusahaan zombie semakin membengkak. Dari Boeing Co., Carnival Corp., Delta Air Lines Inc. hingga Exxon Mobil Corp. dan Macy's Inc., perusahaan paling ikonik di negara ini ternyata tidak memperoleh penghasilan yang cukup untuk menutupi biaya bunga utang mereka.

Hampir 200 perusahaan telah dikategorikan sebagai perusahaan zombie sejak awal pandemi, menurut analisis Bloomberg.

Hal ini ditemukan Bloomberg setelah melakukan analisis terhadap data keuangan dari 3.000 perusahaan publik terbesar di AS.

Faktanya, perusahaan zombie sekarang menyumbang hampir 20 persen dari jumlah perusahaan di atas. Bahkan lebih jelas lagi, perusahaan- perusahaan tersebut telah menambahkan hampir US$1 triliun utang ke neraca keuangan mereka selama pandemi, sehingga total kewajiban menjadi US$1,36 triliun.

Itu lebih dari dua kali lipat dari kira-kira US$500 miliar, utang perusahaan zombie pada puncak krisis keuangan lalu.

Konsekuensi bagi pemulihan ekonomi Amerika sangat besar. Upaya Federal Reserve untuk mencegah terjadinya banyak kebangkrutan dengan membeli obligasi perusahaan mungkin telah mencegah depresi.

Tetapi dalam membantu ratusan perusahaan yang sakit mendapatkan akses yang hampir tidak terkekang ke pasar kredit, pembuat kebijakan mungkin secara tidak sengaja mengarahkan aliran modal ke perusahaan yang tidak produktif, sehingga dapat menekan lapangan kerja dan pertumbuhan untuk tahun-tahun mendatang.

"Kami telah sampai pada titik di mana kami harus bertanya, 'apa konsekuensi yang tidak diinginkan?'" kata Kepala Ekonom di Apollo Global Management Inc. Torsten Slok.

"The Fed, untuk alasan stabilitas, memutuskan untuk turun tangan. Mereka tahu bahwa mereka akan membuat [perusahaan] zombie. Sekarang pertanyaannya menjadi, 'bagaimana dengan perusahaan yang tetap hidup padahal seharusnya mereka sudah gulung tikar?"

Perusahaan zombie mendapatkan julukan mereka karena kecenderungan mereka untuk berjalan lambat, tidak dapat menghasilkan cukup uang untuk memenuhi kewajiban mereka, tetapi masih memiliki akses yang cukup ke kredit untuk membayar hutang mereka.

Perusahaan mayat hidup ini menjadi penghambat ekonomi karena mereka membuat aset tetap terikat pada perusahaan yang tidak mampu berinvestasi dan membangun bisnis mereka.

Di antara pendatang baru, ada empat maskapai besar AS dengan total utang US$128 miliar. Mereka telah menjadi zombie pada tahun 2020. Pendatang baru lainnya adalah pengelola bioskop serta perusahaan hiburan yang jumlahnya menjadi 10 perusahaan dengan tambahan utang US$28 miliar.

“Kami membedakan antara yang berjalan terluka dan yang berjalan mati,” kata Manajer Portofolio Amundi Pioneer Ken Monaghan.

"Beberapa sektor kemungkinan besar akan mati, tetapi beberapa mungkin memerlukan transformasi radikal untuk bertahan hidup dan menarik modal," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing exxonmobil utang

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top