Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mahathir Mohamad Bilang Muslim Berhak Balas Serangan Orang Prancis

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan Muslim memiliki hak untuk "membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu".
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  10:27 WIB
Mahathir Mohamad. - Bloomberg/Samsul Said
Mahathir Mohamad. - Bloomberg/Samsul Said

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan perdana menteri Malaysia Mahathir Mohamad memberikan komentar kontroversial terkait dengan serangan di Basilika Notre Dame, Nice, Prancis, Kamis (29/10/2020) di laman Twitter resminya.

Dalam serangan tersebut, tiga orang tewas ditusuk oleh seorang pelaku pria berusia 21 tahun yang merupakan imigran Tunisia.

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan Muslim memiliki hak untuk "membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu".

Mahathir memposting komentarnya ke blog dan Twitter-nya.

Mahathir, yang merupakan seorang pemimpin yang dihormati di dunia Muslim, mengatakan dia percaya pada kebebasan berekspresi tetapi kebebasan ini tidak boleh digunakan untuk menghina orang lain.

"Muslim memiliki hak untuk marah dan membunuh jutaan orang Prancis atas pembantaian di masa lalu," tulis Mahathir di salah satu tweet, yang kemudian dihapus dari platform Twitter karena melanggar aturannya, menurut Al-Jazeerah.

Dia melanjutkan: “Tapi pada umumnya, Muslim belum menerapkan hukum 'mata ganti mata'. Muslim tidak. Orang Prancis tidak seharusnya."

“Karena Anda telah menyalahkan semua Muslim dan agama Muslim atas apa yang dilakukan oleh satu orang yang marah, Muslim memiliki hak untuk menghukum orang Prancis,” tulis Mahathir merujuk pada seorang pria yang memenggal kepala seorang guru bahasa Prancis awal bulan ini.

Mahathir, yang mengundurkan diri dari masa jabatan keduanya sebagai perdana menteri Malaysia pada Maret lalu, mengatakan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak menunjukkan bahwa dia beradab. Mahathir pun menambahkan bahwa Macron "sangat primitif".

“Orang Prancis harus mengajari rakyatnya untuk menghormati perasaan orang lain,” katanya.

Di Prancis, Cedric O, seorang menteri junior yang bertanggung jawab atas industri digital dan komunikasi, mengatakan dia telah berbicara dengan direktur pelaksana Twitter di negara itu dan mendesak platform tersebut untuk menangguhkan akun Mahathir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

prancis Mahathir Mohamad Emmanuel Macron
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top