Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengusaha di Turki Kritik Kebijakan Pelarangan Impor Arab Saudi

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Sabtu (10/10/2020), kepala delapan grup bisnis terbesar Turki mengutip keluhan perusahaan Saudi bahwa pihak berwenang memaksa mereka untuk menandatangani surat komitmen untuk tidak mengimpor barang-barang dari Turki.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Oktober 2020  |  01:46 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berdiri di hadapan para pendukungnya di Istanbul, Turki pada Minggu (24/6). - Reuters/Osman Orsal
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berdiri di hadapan para pendukungnya di Istanbul, Turki pada Minggu (24/6). - Reuters/Osman Orsal

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah pengusaha besar di Turki mengkritik Arab Saudi yang telah meningkatkan upaya untuk melarang impor dari negaranya. Mereka menganggap upaya tersebut dapat merusak rantai pasokan global.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Sabtu (10/10/2020), kepala delapan grup bisnis terbesar Turki mengutip keluhan perusahaan Saudi bahwa pihak berwenang memaksa mereka untuk menandatangani surat komitmen untuk tidak mengimpor barang-barang dari Turki.

Mereka juga mengeluh bahwa kontraktor Turki kerap tidak diikutsertakan dalam sejumlah tender proyek besar.

Perusahaan peti kemas terbesar di dunia, AP Moller-Maersk A/S, bulan lalu memperingatkan kemungkinan gangguan pasokan secara global. Selain itu, Ketua Dewan Kamar Saudi Ajlan Al Ajlan mendesak pemboikotan impor dari Turki melalui pernyataan di akun Twitter-nya.

“Masalah ini telah melampaui hubungan ekonomi bilateral dan menjadi masalah bagi rantai pasokan global,” kata pernyataan bersama yang ditandatangani oleh para pemimpin industri, eksportir, kontraktor, dan serikat pekerja, seperti dikutip Bloomberg.

“Setiap inisiatif resmi atau tidak resmi untuk memblokir perdagangan antara kedua negara akan berdampak negatif pada hubungan perdagangan kita dan merugikan ekonomi serta masyarakat kedua negara,’ lanjut pernyataan tersebut.

Sebelumnya, pusat komunikasi internasional pemerintah Arab Saudi membantah telah memberlakukan pembatasan pada barang-barang Turki dalam pernyataan tertanggal 3 Oktober 2020.

Turki juga masih mengkaji kemungkinan banding ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Arab Saudi adalah pasar ekspor terbesar ke-15 di negara itu, dengan penjualan sejumlah komoditas seperti karpet, tekstil, bahan kimia, biji-bijian, furnitur, dan baja mencapai US$1,91 miliar dalam delapan bulan pertama tahun ini. Angka tersebut turun 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Meskipun sebagian penurunan diakibatkan oleh pandemi covid-19, badan statistik Saudi menunjukkan nilai impor Turki telah turun setiap tahun sejak 2015.

Kedua negara kerap bersitegang berulang kali selama beberapa tahun terakhir, setelah hubungan bilateral mulai melonggar menyusul pembunuhan kolumnis Washington Post, Jamal Khashoggi, pada 2018.

Banyak dari perbedaan pandangan kedua negara bertumpu pada penolakan Saudi untuk menggunakan agama sebagai dasar bagi gerakan politik populer, yang diwujudkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dukungan Erdogan terhadap mantan Presiden Mesir Mohamed Mursi dan gerakan lain yang diilhami oleh Ikhwanul Muslimin di seluruh kawasan mendorong Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir untuk bersekutu dalam blok anti-Turki.

Langkah tersebut juga membuat Riyadh dan Ankara berada pada kubu yang berlawanan dari konflik di Libya, serta perseteruan yang sedang berlangsung antara Qatar dan aliansi empat negara Arab yang dipimpin Arab Saudi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arab saudi turki

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top