Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Incar 4.000 Pelajar China yang Terafiliasi Militer

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bulan ini Amerika Serikat telah mencabut visa lebih dari 1.000 pelajar dan peneliti China yang dianggap berisiko terhadap keamanan nasional. AS menduga ada setidaknya 1 persen dari 400.000 pelajar China yang diduga berisiko.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 01 Oktober 2020  |  14:08 WIB
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) -  Bloomberg / Stefani Reynolds
Presiden Trump memimpin pertemuan dengan petinggi sejumlah industri di AS, Rabu (29/4/2020) - Bloomberg / Stefani Reynolds

Bisnis.com, JAKARTA - Gedung Putih tengah membidik 1 persen dari 400.000 pelajar China di Amerika Serikat yang diduga berafiliasi dengan militer dan ditugasi mengumpulkan informasi tentang teknologi AS dan hal lainnya.

Namun Matt Pottinger, Wakil Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, mengatakan sebagian besar mahasiswa China akan disambut baik. Pottinger mengatakan mayoritas mahasiswa China dapat diterima dengan baik dan dipercaya akan memulai bisnis yang besar.

"Presiden Trump telah mengambil tindakan untuk menargetkan sekitar 1 persen dari jumlah besar itu, untuk menargetkan peneliti China yang berafiliasi dengan militer yang dalam beberapa kasus berada di sini dengan alasan palsu atau bahkan identitas palsu," kata Pottinger, dilansir Channel News Asia, Kamis (1/10/2020).

Dia melanjutkan, kasus lain melibatkan individu yang datang ke AS untuk mendapatkan akses ke teknologi yang akan berguna untuk kemajuan militer China atau penindasan rakyat mereka sendiri.

Tindakan AS terhadap mahasiswa China terjadi pada saat hubungan kedua negara tenggelam ke titik terendah dalam beberapa dekade menjelang pemilihan kembali Trump pada 3 November.

Dua ekonomi terbesar dunia telah bentrok karena berbagai masalah mulai dari perdagangan dan hak asasi manusia hingga Hong Kong dan virus corona.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bulan ini Amerika Serikat telah mencabut visa lebih dari 1.000 pelajar dan peneliti China yang dianggap berisiko terhadap keamanan nasional. China menyebut ini sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

Washington mengatakan tindakan itu menyusul proklamasi 29 Mei oleh Trump sebagai tanggapan atas pembatasan China pada demokrasi di Hong Kong. Banyaknya mahasiswa China yang belajar di Amerika Serikat mendatangkan pendapatan yang signifikan bagi universitas-universitas AS, meskipun pandemi Covid-19 sangat mengganggu perjalanan kembali ke kampus musim gugur ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top