Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Catat, Ini Panduan WHO untuk Buka Sekolah saat Wabah Covid-19

WHO menyebut bahwa keputusan untuk menutup, menutup sebagian, atau membuka kembali sekolah sepenuhnya perlu didasari oleh pendekatan berbasis risiko.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 16 September 2020  |  11:51 WIB
Seorang guru bahasa Inggris sedang mengajar saat dilaksanakannya sedang sekolah tatap muka di salah satu rumah warga di Kota Kupang, NTT Senin (10/08/2020). - Antara
Seorang guru bahasa Inggris sedang mengajar saat dilaksanakannya sedang sekolah tatap muka di salah satu rumah warga di Kota Kupang, NTT Senin (10/08/2020). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) menyebut bahwa anak usia di bawah 18 tahun berkontribusi pada 8,5 persen dari seluruh kasus infeksi Covid-19 yang ada di dunia.

Oleh karena itu, sebelum kembali bersekolah, perlu mempertimbangkan beberapa hal.

Berdasarkan pada pedoman pertimbangan tindakan kesehatan masyarakat terkait sekolah dalam konteks Covid-19 yang disusun Tim Komunikasi Risiko WHO, menyebut bahwa keputusan untuk menutup, menutup sebagian, atau membuka kembali sekolah sepenuhnya perlu didasari oleh pendekatan berbasis risiko.

Pendekatan tersebut antara lain terkait dengan bagaimana pelaksanaan sekolah bisa memaksimalkan edukasi, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan murid, guru, staf, dan lingkungan masyarakat secara umum, dan tetap membantu mencegah penyebaran wabah Covid-19 di lingkungan sekitar.

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan kembali membuka sekolah atau memutuskan untuk tetap membuka sekolah yaitu:

Pertama, perhatikan kondisi epidemologis Covid-19 di tingkat lokal. Kondisi ini bisa berbeda-beda dari satu tempat dengan yang lainnya bahkan di dalam satu negara.

Kedua, pertimbangkan keuntungan dan risikonya. Apakah membuka sekolah lebih memberikan keuntungan atau malah membawa risiko kesehatan bagi murid, guru, dan staf jika sekolah dibuka.

Ketiga, terkait hal itu perlu juga memperhatikan intensitas transmisi di wilayah sekolah, apakah tidak ada kasus atau transmisi sporadis, transmisi klaster, atau transmisi komunitas.

Keempat, pertimbangkan pula dampak keseluruhan dari penutupan sekolah pada edukasi, kesehatan publik, dan kesejahteraan, terutama pada populasi yang rentan dan terpinggirkan misalnya anak perempuan, terlantar atau disabilitas.

Kelima, perhatikan kefektifan strategi belajar jarak jauh.

Keenam, terkait deteksi dan respons, apakah dinas kesehatan wilayah setempat mempu bereaksi cepat apabila terjadi kasus.

Ketujuh, terkait dengan kapasitas sekolah atau istitusi pendidikan. Perhatikan apakah sekolah mampu menyediakan lingkungan yang sehat dan bisa beroperasi dengan aman.

Kedelapan, perlu adanya koordinasi dan kolaborasi dengan dinas kesehatan setempat.

Kesembilan, memastikan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga diterapkan tak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan sekitar sekolah dan dari masing-masing murid, guru, dan staf yang bertugas di sekolah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sekolah covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top