Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manufaktur Inggris Serukan Perlindungan Ekspor dalam Perundingan Brexit

Organisasi industri manufaktur Inggris, Make UK, menyatakan bahwa ekspor ke enam negara tujuan Eropa teratas yang meliputi Jerman, Prancis, dan Belanda, bernilai 117,4 miliar poundsterling (US$152,6 miliar).
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 10 September 2020  |  10:29 WIB
Muller-Otvos mengatakan perusahaannya tidak memiliki rencana untuk memindahkan produksinya dari Inggris karena Brexit.  - Rolls Royce
Muller-Otvos mengatakan perusahaannya tidak memiliki rencana untuk memindahkan produksinya dari Inggris karena Brexit. - Rolls Royce

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor manufaktur Inggris menemukan bahwa delapan dari sepuluh pasar teratas untuk produk buatan Inggris terfokus di Eropa.

Ketergantungan Inggris pada perdagangan dengan negara tetangga terdekat diminta menjadi pertimbangan dalam kesepakatan penarikan dari Uni Eropa atau Brexit.

Organisasi industri manufaktur Inggris, Make UK, menyatakan bahwa ekspor ke enam negara tujuan Eropa teratas yang meliputi Jerman, Prancis, dan Belanda, bernilai 117,4 miliar poundsterling (US$152,6 miliar)

"Angka-angka ini menunjukkan betapa pentingnya bagi produsen perdagangan dengan pasar terdekat kami dan kebutuhan untuk menghindari penerapan hambatan apa pun yang akan membuat ini lebih sulit. Untuk pabrikan Inggris, akses ke pasar terbesar mereka haruslah premium," kata Ketua Make UK Stephen Phipson dalam sebuah pernyataan, dilansir Bloomberg, Kamis (10/9/2020).

Laporan Make UK menemukan bahwa negara itu adalah produsen nomor sembilan dunia sekaligus eksportir peringkat sepuluh global dengan produksi sebesar 191 miliar poundsterling pada 2019.

Pemerintah Inggris telah meningkatkan retorikanya tentang Brexit dalam beberapa hari terakhir. Perdana Menteri Boris Johnson berencana untuk melanggar hukum internasional dan menulis ulang kesepakatan penarikan yang disepakati dengan blok tersebut.

Kesepakatan transisi yang disepakati tahun lalu akan berakhir pada 31 Desember, yang berarti waktu hampir habis untuk menghindari skenario tidak ada kesepakatan sehingga bisnis akan dikenai tarif tambahan. Hal itu juga akan membahayakan ribuan pekerjaan dengan gaji tinggi.

Sektor manufaktur telah terpukul keras oleh pandemi virus Corona. Perusahaan seperti Rolls-Royce Holdings Plc, misalnya, merencanakan PHK yang luas dan memindahkan beberapa produksi ke luar negeri.

Sektor ini telah menyerukan dukungan seperti perpanjangan rencana cuti pekerja yang disponsori pemerintah untuk melewati masa sulit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur inggris Brexit
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top