Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ambyar! Ekonomi Afrika Selatan Minus 51 Persen pada Kuartal II/2020

Kontraksi ini jauh lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal I/2020 yang hanya 1,8 persen, sekaligus memperpanjang resesi hingga empat kuartal berturut-turut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 September 2020  |  18:24 WIB
Seorang perawat bertugas di sebuah kendaraan pengujian di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 21 April 2020. Antara/Xinhua (Shiraaz Mohamed)
Seorang perawat bertugas di sebuah kendaraan pengujian di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 21 April 2020. Antara/Xinhua (Shiraaz Mohamed)

Bisnis.com, JAKARTA – Afrika Selatan mencatatkan kontraksi ekonomi terdalam pada kuartal II/2020 akibat pembatasan untuk mengekang penyebaran virus corona. Kontraksi ini pun membuat Negara Pelangi ini mengalami resesi terpanjang dalam 28 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, Badan Statistik Afrika Selatan (Afsel) mencatat produk domestik bruto (PDB) terkontraksi 51 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, jauh lebih dalam dibandingkan kontraksi kuartal I/2020 yang hanya 1,8 persen.

Kontraksi ini merupakan penurunan paling tajam sejak tahun 1990 dan memperpanjang resesi hingga kuartal keempat, periode kontraksi kuartalan terpanjang berturut-turut sejak 1992.

Median estimasi dari 17 ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan penurunan 47,2 persen dari kuartal sebelumnya. Secara tahunan (year-on-year/yoy) ekonomi After terkontraksi 17,1 persen, lebih dalam dari perkiraan median sebesar 16 persen.

Kebijakan lockdown nasional ketat yang dimulai pada 27 Maret memperdalam kemerosotan ekonomi yang terjebak dalam siklus penurunan terpanjangnya setidaknya sejak Perang Dunia II. Ditegakkan oleh polisi dan militer, orang-orang hanya diizinkan meninggalkan rumah mereka untuk membeli makanan, mengambil tunjangan kesejahteraan, dan mencari perawatan medis kecuali mereka menyediakan layanan penting.

Meskipun pembukaan kembali ekonomi secara bertahap dimulai pada 1 Mei, banyak perusahaan menutup secara permanen atau memecat pekerja selama penutupan perlangsung.

PDB menyusut lebih dari perkiraan bank sentral yang memperkirakan kontraksi 40,1 persen, sehingga meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga keenam tahun ini. Gubernur Bank Sentral Afsel Lesetja Kganyago mengatakan bulan lalu bahwa inflasi yang diredam memberi ruang kepada komite kebijakan moneter untuk menanggapi jika sifat guncangan yang disebabkan oleh pandemi ternyata lebih buruk dari perkiraan.

"Ini menambah kemungkinan untuk pemangkasan 25 basis poin  (suku bunga acuan)," kata kepala investasi Afrika Selatan di Ninety One Ltd., Nazmeera Moola.

“Kami memperkirakan (pemangkasan suku bunga) 25 basis poin pada pertemuan saat ini atau pertemuan berikutnya, tapi saya pikir data ini membantu meningkatkan kemungkinan untuk pemotongan pada minggu depan,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

Kontraksi yang berlanjut kemungkinan besar akan membebani pengumpulan pendapatan dan upaya pemerintah untuk menstabilkan utang serta mempersempit defisit anggaran. Ini juga akan mempersulit penurunan tingkat pengangguran yang mencapai 30,1 persen dan dipandang sebagai salah satu hambatan terbesar untuk mengurangi kemiskinan di salah satu negara paling timpang di dunia.

Meskipun Reserve Bank of South Afrika memperkirakan rebound dengan pertumbuhan tahunan sebesar 17,5 persen pada kuartal ketiga, pemadaman listrik yang terus berlanjut dan reformasi yang lambat dapat mengancam pemulihan.

“Tingkat aktivitas ekonomi hanya akan kembali ke level sebelum Covid-19 pada tahun 2023-2024. Perbedaan antara pertumbuhan aktual dan potensial kemungkinan besar akan membatasi inflasi dalam waktu dekat,” kata ekonom Momentum Investments, Sanisha Packirisamy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi afrika selatan
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top