Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Balas AS, China Batasi Visa Jurnalis dari Media Amerika

Otoritas China telah menjelaskan bahwa surat keterangan pers sementara beserta visa dapat dicabut kapan saja.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 07 September 2020  |  11:43 WIB
Ilustrasi - istimewa
Ilustrasi - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - China dan AS kini mengalihkan "medan sengketa" ke dunia pemberitaan. Dalam putaran terakhir perselisihan antara Beijing dan Washington, keduanya saling membidik outlet media.

Belakangan pihak berwenang China memberlakukan pembatasan visa baru bagi jurnalis asing yang bekerja untuk perushaan media AS.

Dalam sepekan terakhir, surat tugas pers para jurnalis yang biasanya berlaku selama satu tahun, kini diberikan surat yang menyatakan bahwa permohonan visa mereka sedang diproses.

Mereka kemudian diminta untuk membawa surat tersebut beserta kartu persnya yang sudah kadaluwarsa sebagai bukti identitas jurnalistik.

Karena visa China mereka terikat pada kartu pers yang dimiliki maka para jurnalis itu diberi visa baru yang berlaku hanya sekitar dua bulan, jauh lebih pendek dari yang biasanya berlaku satu tahun.

Otoritas China telah menjelaskan bahwa surat keterangan pers sementara beserta visa dapat dicabut kapan saja. Hal itu membuat jurnalis yang terkena dampak berada dalam kebingungan tanpa mengetahui secara pasti berapa lama mereka akan dapat tinggal di China.

Koresponden CNN David Culver yang berkewarganegaraan Amerika Serikat, termasuk di antara mereka yang terdampak langkah terbaru Beijing.

CNN mengetahui bahwa wartawan yang menjadi sasaran termasuk warga negara AS dan non-AS dari beberapa outlet media utama AS, termasuk Wall Street Journal.

Culver diberitahu oleh pejabat China bahwa pembatasan baru tidak ada hubungannya dengan liputannya, tetapi merupakan "tindakan timbal balik" sebagai tanggapan atas perlakuan administrasi Trump terhadap jurnalis China di Amerika Serikat.

Seorang juru bicara CNN kemarin mengkonfirmasi visa baru Culver yang dipersingkat.

"Salah satu jurnalis kami yang berbasis di Beijing baru-baru ini melaporkan memiliki visa yang berlaku selama dua bulan, bukan dua belas bulan seperti biasanya," kata juru bicara itu.

Akan tetapi kehadirannya di China tetap tidak berubah dan terus bekerja dengan otoritas lokal untuk memastikan hal itu terus berlanjut.

Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa para diplomatnya di Beijing baru-baru ini diberitahu tentang tindakan pemerintah China yang akan menyasar media AS di China.

"Amerika Serikat tentu saja bermasalah dengan tindakan yang diusulkan ini ... akan memperburuk kondisi pelaporan di China," kata Juru Bicara Kemlu AS Morgan Ortagus seperti dikutip CNN.com, Senin (7/9/2020).

Dia menyebut China takut menghadapi pemberitaan.

"Tindakan Beijing berkali-kali membuktikan bahwa (Partai Komunis China yang berkuasa) takut pada pemberitaan media investigasi dan independen yang hanya memperluas dan memperdalam pemahaman dunia tentang China menjadi lebih baik," katanya.

Pada Mei lalu, Washington membatasi durasi tinggal sebagian besar jurnalis China yang berbasis di AS menjadi 90 hari. Beijing mengklaim tidak ada jurnalis yang mendengar kabar dari otoritas AS tentang status mereka.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat jurnalis

Sumber : CNN.com

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top