Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS dan China Bahas Kesepakatan Dagang Fase Satu, Ini Hasilnya

Hal yang dibahasa a.l. langkah-langkah yang telah diambil China sebagai bagian dari kesepakatan, seperti memastikan perlindungan yang lebih besar untuk hak kekayaan intelektual dan menghilangkan hambatan bagi perusahaan Amerika Serikat (AS) di bidang layanan keuangan.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  09:33 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) saat kunjungan ke Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) saat kunjungan ke Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj

Bisnis.com, JAKARTA - Perwakilan dari pemerintahan Trump dan Xi Jinping akhirnya berdialog tentang kesepakatan perdagangan fase satu yang menggarisbawahi kemajuan dan berkomitmen untuk keberhasilannya.

Kedua negara membahas langkah-langkah yang telah diambil China sebagai bagian dari kesepakatan, seperti memastikan perlindungan yang lebih besar untuk hak kekayaan intelektual dan menghilangkan hambatan bagi perusahaan Amerika Serikat (AS) di bidang layanan keuangan dan pertanian.

Perdagangan antara ekonomi terbesar di dunia telah muncul sebagai bidang kerja sama yang langka karena hubungan tersebut terjadi di sejumlah bidang lain mulai dari keamanan teknologi hingga Hong Kong dan respons pandemi.

Namun, Beijing jauh tertinggal untuk memenuhi janjinya untuk meningkatkan pembelian barang pertanian, energi dan manufaktur dari AS.

"Para pihak juga membahas peningkatan signifikan dalam pembelian produk AS oleh China serta tindakan di masa depan yang diperlukan untuk mengimplementasikan perjanjian tersebut," kata Perwakilan Dagang AS dalam sebuah pernyataan, dilansir Bloomberg, Selasa (25/8/2020).

Menurut pernyataan itu, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin berbicara dengan pejabat China pada Senin malam waktu Washington.

Sementara itu, Presiden Xi Jinping dalam sebuah pertemuan di Beijing menekankan China harus dengan penuh semangat meningkatkan kemampuan untuk melakukan inovasi secara mandiri. Hal itu menggarisbawahi sikap dunia internasional yang memusuhi industri teknologi China.

"Dunia sedang mengalami perubahan besar yang tak terlihat dalam satu abad, yang dipercepat oleh pandemi Covid-19," kata Xi pada simposium tentang pekerjaan ekonomi dan sosial.

Xi menegaskan perlunya mengembangkan apa yang disebut model ekonomi sirkulasi ganda, yang menempatkan pasar domestik sebagai andalan perekonomian.

Namun, Xi menekankan bahwa ini bukan tentang sirkulasi domestik yang terisolasi, melainkan struktur terbuka yang akan melibatkan hubungan yang lebih besar dengan sistem global.

"China harus secara aktif bekerja sama dengan semua negara, wilayah, dan perusahaan yang bersedia bekerja dengan kami, termasuk negara bagian AS, area lokal, dan perusahaan," katanya.

Secara terpisah, Sing Tao Daily melaporkan bahwa Xi dapat mengunjungi pusat inovasi Shenzhen pada September untuk memperingati ulang tahun ke-40 pembentukan zona ekonomi khusus yang berbatasan dengan Hong Kong.

Jika itu terjadi, kunjungan tersebut akan diawasi dengan ketat untuk setiap indikasi sikap China terhadap keterbukaan ekonomi dan juga hubungan dengan AS, yang terus memburuk karena virus Corona dan masalah lain termasuk teknologi dan Hong Kong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat perang dagang AS vs China
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top