Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Emosi Jiwa Presiden Teflon. Begini Kiatnya.

Ketika mengambil jarak dari sebuah masalah, Anda akan terbebas dari emosi, sehingga dapat memikirkan tindakan selanjutnya dengan tenang dan positif.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  19:40 WIB
Ekspresi marah - marretcounseling.com
Ekspresi marah - marretcounseling.com

Bisnis.com, JAKARTA –Hari kerja yang penuh dengan pergulatan dapat membuat seseorang menjadi emosi dan tidak nyaman.

Pemicunya macam-macam. Work from home jangan disangka mulus-mulus saja. Gangguan jaringan internet kerap terjadi. Internet yang lemot membuat hati gundah gulana.

Pekerjaan tidak cepat tuntas seperti yang diharapkan. Meeting virtual terganggu koneksi. Hal-hal ini seperti ini bisa membuat hati panas.

Internet dan koneksi bak raja di musim pandemi Covid-19 saat ini. Tanpa tersambung ke dunia maya, kita ibarat mati kutu. Hidup menjadi tak menentu.

Mengapa harus emosi? Mengapa harus ‘meledak’? Bila Anda sering terjebak pada situasi macam begini, belajarlah kepada teflon.

Ia bukan barang baru. Paling banyak dipakai sebagai peralatan memasak yang sudah diakui kehandalannya oleh kaum ibu. Teflon memang luar biasa berkat jasa Roy T. Plunkett, peneliti yang berkerja di DuPont de Noemours & Co, Prancis.

Pada 1938 dia menemukan sebuah bahan yang disebut resin politetrafluoroetilen atau PTFE. Tak dinyana, bahan ini tahan terhadap asam, awet, dan berkemampuan juga sebagai isolator listrik yang bandel.

Penemuan ini dilanjutkan ke tahap produksi yang dinamakan Teflon. Singkatnya, teflon telah merevolusi cara orang memasak di seluruh dunia. Panci penggorengan yang dilapisi teflon membuat makanan yang digoreng di atasnya tidak lengket.

Itulah yang membuat teflon menjadi inspirasi banyak hal. Tidak terkecuali di dunia manajemen kepribadian dan kepemimpinan.

Bahkan Karen L. Otazo (2006), trainer papan atas eksekutif global dan korporasi multinasional, menyebut Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan saat berkuasa tak ubahnya 'Presiden Teflon'.

Kok bisa? Reagan, politisi yang juga aktor layar lebar, memang dikenal sebagai sosok yang hangat. Senyumnya selalu mengembang. Sorot matanya teduh.

Dengan kepribadian yang membuat sang presiden dapat mengabaikan fakta yang tidak menyenangkan, tokoh tersebut membawa pandangan ke depan yang positif, apapun urusannya.

Kabar buruk tidak dapat melekat pada dirinya, karena sang 'Presiden Teflon' tidak bereaksi terhadapnya. Karena itu, apapun pendapat orang mengenai kebijakan politiknya, sebagian besar masyarakat di negeri Paman Sam menghormati gaya Presiden Reagan.

Nah, bagaimana gaya sang Ppresiden Teflon' itu bisa diadopsi, diadaptasi atau dimodifikasi dalam kehidupan pribadi seseorang dengan beragam profesi? Jurus itulah yang perlu didalami.

Mengapa temperamen teflon itu dipandang sebagai salah satu cara jitu untuk membuat diri kita tetap tenang dan tahan goncangan.

Hal yang buruk akan cepat berlalu tanpa terasa meski pembawaan diri seseorang tergolong tidak tenang. Tentu saja hal ini tidak ‘gratis’. Perlu mengetahui jurus dan rahasianya!

Dengan latihan yang fokus, kata Otazo, kita dapat mengembangkan lapisan teflon dan melindungi diri sendiri dari konflik dan hal-hal negatif di tempat kerja.

Menerapkan temperamen jenis teflon, sebagian memang merupakan trik pikiran. Lapisan pelindungnya adalah sesuatu yang dapat divisualisasikan dalam benak Anda.

Bayangkan diri Anda mengenakannya setiap pagi ketika masuk kantor. Anda dapat mengingatkan diri sendiri akan keberadaannya setiap kali menghadapi situasi yang sulit.

"Berlawanan dengan baju zirah imajiner, dengan konotasi perang dan pertahanannya serta bentuknya yang membatasi gerak. Teflon imajiner hanyalah lapisan pelindung tipis yang otomatis melindungi Anda dari konflik sengit," ujar konsultan manajemen papan atas tersebut.

Keampuhan efek lapisan teflon juga menakjubkan. Tak ubahnya seperti menghitung sampai angka 10 ketika ada sesuatu yang membuat orang marah atau kecewa.

Namun dengan ‘temperamen teflon’, seseorang belajar untuk menghentikan rasa frustasi sejak awal dengan mengambil jarak darinya.

Ketika mengambil jarak dari sebuah masalah, Anda akan terbebas dari emosi dan dapat memikirkan tindakan selanjutnya dengan tenang dan positif.

Kuncinya adalah mengambil jarak dan bersikap positif. Berlawanan dengan anggapan umum untuk mengungkapkan semuanya. Intinya, mengemukakan pandangan negatif dapat benar-benar mempengaruhi orang secara negatif pula, dan membatasi kemampuannya untuk merespons dengan penuh energi dan kreativitas.

Alhasil, ‘teflon’ membantu seseorang mengambil pandangan yang obyektif dan positif tentang apa yang mungkin.

Menurut Otazo, hanya sedikit temperamen teflon yang 100% tidak dapat ditembus. Seiring perjalanan waktu, bisa saja muncul lubang-lubang kelemahan diri dan frustasi yang bergejolak.

Cobalah untuk sebisa mungkin tidak panik dan lepas kendali. Bikin diri Anda rileks dan bebas stres. Lakukan hal praktis yang mendasar seperti cukup tidur, cukup istirahat, cukup makan dan minum, dan berolahraga teratur.

Sangat dianjurkan pula untuk mempraktikkan teknik pengurangan stres seperti meditasi dan menarik nafas panjang.

Luangkan waktu jeda dalam setiap hari kerja untuk mengistirahatkan pikiran dan badan meskipun hanya dengan berjalan-jalan sedikit.

Akhirnya, jika ada sesuatu yang mengenai teflon Anda atau 'teflon' Anda 'terluka', jangan ragu ambil jeda sekitar 15 menit untuk membantu Anda dapat kembali ke jalur semula.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengelolaan emosi
Editor : Inria Zulfikar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top