Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Riset UBS: Thailand dan Taiwan Berisiko Masuk Daftar 'Manipulasi Mata Uang'

Dari temuan UBS, Taiwan dan Thailand sekarang memenuhi ketiga kriteria manipulasi mata uang tersebut.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 22 Juli 2020  |  14:24 WIB
Mata uang baht Thailand - JIBI
Mata uang baht Thailand - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Thailand dan Taiwan berpotensi masuk ke dalam daftar pantauan AS atas dugaan manipulasi mata uang berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh Departemen Keuangan.

Suatu negara termasuk dalam daftar pemantauan jika memenuhi dua dari tiga tolok ukur, surplus perdagangan dengan AS setidaknya US$20 miliar; surplus neraca berjalan minimal 2 persen dari produk domestik bruto (PDB); dan intervensi sepihak dalam mata uang dengan nilai yang dengan 2 persen dari PDB dalam enam bulan selama setahun.

Dari temuan UBS, Taiwan - yang keluar dari daftar pemantauan AS pada tahun 2017 - dan Thailand sekarang memenuhi ketiga kriteria tersebut.

Namun, menurut analisis UBS, keduanya belum dimasukkan dalam temuan bulan Januari 2020 oleh Departemen Keuangan AS.

"Thailand dan Taiwan melampaui batas surplus perdagangan US$20 miliar untuk masuk dalam daftar," tulis ahli strategi UBS termasuk Rohit Arora dan Teck Quan Koh dalam laporannya, Selasa (21/7/2020).

"Kami memperkirakan Thailand, untuk pertama kalinya, akan masuk dalam laporan yang akan datang, dengan kemungkinan besar, Taiwan kembali masuk daftar."

Gubernur Bank of Thailand Veerathai Santiprabhob mengatakan bahwa dia tidak khawatir tentang laporan tersebut karena negara telah menjelaskan kebijakan valuta asingnya kepada Departemen Keuangan AS.

Baht telah bergerak menguat terhadap dolar AS. Kendati demikian, pergerakannya sebenarnya melemah dari tahun lalu. Dia menambahkan bahwa bank sentral hanya melakukan intervensi ketika ada volatilitas yang berlebihan karena Thailand masih menggunakan sistem nilai tukar mengambang dan Departemen Keuangan AS memahami hal itu.

AS sebelumnya pernah memasukan China sebagai manipulator mata uang dalam laporan terakhirnya. Selain China, Swiss, Jepang, Korea, Jerman, Italia, Irlandia, Singapura, Malaysia, Vietnam masuk ke dalam daftar.

Gubernur bank sentral Taiwan Yang Chin-Long mengatakan bahwa Taiwan mungkin muncul dalam daftar pantauan jika AS tetap memegang teguh kriterianya tersebut.

“Prinsip kami kapan harus melangkah di pasar forex tidak berubah, yaitu ketika ada aliran dana yang besar masuk atau keluar dalam waktu singkat. Bank sentral akan menjaga stabilitas dolar Taiwan,” katanya bulan lalu.

Sekitar 75 persen bank sentral di dunia persisten untuk melakukan intervensi pasar. Menurut UBS, negara-negara di Asia mendominasi daftar milik Departemen Keuangan AS, terkait dengan negara-negara yang melakukan pengawasan mata uang atau 60 persen dari keseluruhan daftar tersebut.

"Meskipun kami pikir tidak ada negara yang akan dicap sebagai manipulator, [namun] laporan itu penting secara simbolis untuk pasar FX," tulis ahli strategi UBS.

Untuk menghindari daftar tersebut, UBS menilai negara-negara harus memperhatikan pengelolaan surplusnya atau melakukan reformasi struktural.

Ini adalah daftar temuan UBS:

-Bank Thailand diperkirakan telah melakukan intervensi 10 kali dalam 12 bulan di pasar mata uang selama tahun 2019, dengan pembelian valuta asing bersih mewakili 3,5 persen dari PDB.

-Gangguan Covid-19 di sektor pariwisata Thailand dan dampaknya pada transaksi berjalan dapat menghambat peluang Bank of Thailand untuk membeli dolar selama enam hingga sembilan bulan ke depan

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

thailand taiwan

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top