Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Pulih, OPEC+ Bersiap Genjot Produksi Minyak

Di sisi lain, gelombang kedua pandemi itu mengancam kemerosotan lanjutan dalam konsumsi minyak, sedangkan pasokan miliaran barel yang menumpuk selama wabah gelombang pertama masih menumpuk.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  12:30 WIB
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah berhasil menggandakan harga minyak mentah selama beberapa bulan terakhir melalui pemangkasan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya, aliansi OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia bersiap kembali menggenjot produksi.

Hal itu seiring permintaan bahan bakar yang mulai pulih menyusul diangkatnya pembatasan pergerakan di banyak negara. Namun, gelombang kedua pandemi itu mengancam kemerosotan lanjutan dalam konsumsi minyak, sedangkan pasokan miliaran barel yang menumpuk selama wabah gelombang pertama masih menumpuk. Jika OPEC+ meningkatkan pasokan, maka harga bisa jatuh sekali lagi.

Dilansir Bloomberg, Senin (13/7/2020), Komite Gabungan Pengawasan Menteri (JMCC) OPEC+ akan mempertimbangkan hal ini pada pertemuan yang akan digelar 15 Juli mendatang. JMMC akan mempertimbangkan apakah aliansi 23 negara itu akan tetap menjaga penurunan produksi di angka 9,6 juta barel per hari atau sesuai rencana semula, mengurangi pemangkasan menjadi 7,7 juta barel. Menurut sebuah sumber, para delegasi cenderung memilih opsi terakhir seiring pemulihan permintaan meningkat.

Di Rusia, anggota non-OPEC yang paling berpengaruh dari aliansi itu, perusahaan-perusahaan minyak besar sedang bersiap untuk meningkatkan produksi bulan depan tanpa adanya panduan lain dari Kementerian Energi. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada 2 Juli bahwa belum ada posisi perpanjangan yang diambil, tetapi menekankan bahwa lebih baik jika OPEC+ tetap pada keputusan sebelumnya.

Menurut Bob McNally, pendiri konsultan Rapidan Energy Group, OPEC+ dapat meningkatkan produksi seperti rencana awal tanpa membanjiri pasar. Dia memperkirakan, permintaan global akan meningkat 18 persen pada kuartal ini menjadi 95,7 juta barel per hari karena aktivitas ekonomi berlanjut. Peningkatan itu akan mengurangi persediaan sebanyak 5,6 juta barel per hari.

"Perkiraan kami menunjukkan akan ada defisit yang cukup besar di kuartal ketiga dan keempat, bahkan dengan pengurangan. Saya pikir pasar akan menanganinya dengan cukup baik," kata McNally.

Namun strategi ini bukan tanpa risiko. Sementara harga minyak telah pulih ke US$43 per barel di London, sentimen di pasar tetap rapuh. Badan Energi Internasional memperingatkan, akselerasi pandemi di AS, dimana infeksi mencapai rekor minggu lalu dan kemunculannya kembali di Asia adalah memberikan bayangan atas prospek.

Selain itu, data pemerintah dan satelit menunjukkan persediaan minyak mentah di AS dan China mendekati level rekor.

"Jenis pemulihan yang diharapkan orang mungkin saat ini belum terwujud. Tidak ada keraguan konsensus adalah kita akan mendapatkan pengetatan pasar, kita belum sampai di sana," kata Mohammad Darwazah, seorang analis di Medley Global Advisors.

Sebagai hasilnya, Riyadh diharapkan untuk menekankan bahwa jika produksi dipulihkan, negara anggota harus mematuhi batasan yang diamanatkan. Selain itu, eksportir yang belum melakukan bagian dari pengurangan tersebut, harus menebusnya.

Irak, Nigeria, Kazakhstan, dan Angola adalah di antara negara yang telah menjanjikan pemotongan kompensasi selama beberapa bulan ke depan untuk menebus ketidakpatuhan terhadap pemangkasan produksi pada Mei, yang setara dengan sekitar 420.000 barel per hari setiap bulan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

opec minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top