Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Apakah Penting Rapid Test Corona? Begini Kata Dokter

Rapid test merupakan pemeriksaan cepat untuk mendeteksi kemungkinan adanya Virus Corona menginfeksi tubuh manusia.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 11 Juli 2020  |  13:00 WIB
Petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (9/7/2020). Pemerintah meluncurkan alat tes cepat COVID-19 yang diberi nama RI-GHA Covid-19 dan menargetkan dapat diproduksi sebanyak 200 ribu rapid pada Juli dan 400 ribu di Agustus 2020. ANTARA FOTO - Arnold
Petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (9/7/2020). Pemerintah meluncurkan alat tes cepat COVID-19 yang diberi nama RI-GHA Covid-19 dan menargetkan dapat diproduksi sebanyak 200 ribu rapid pada Juli dan 400 ribu di Agustus 2020. ANTARA FOTO - Arnold

Bisnis.com, JAKARTA - Rapid test untuk mendeteksi keberadaan Virus Corona belakangan menjadi perdebatan. Pasalnya, tingkat akurasi metode pemeriksaannya terbilang rendah.

Namun, Falla Adinda, seorang dokter yang menjadi relawan di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet, mengatakan bahwa rapid test masih memiliki fungsi. Rapid test menjadi skrining awal untuk mendeteksi Virus Corona yang dapat menulari siapa saja.

“Ini dianggap cukup efektif hingga hari ini,” katanya dalam acara seri Dokter Muda Bicara yang disiarkan secara langsung oleh akun Youtube BNPB, Sabtu (11/7/2020).

Seperti diketahui, metode rapid test merupakan pemeriksaan cepat untuk mendeteksi kemungkinan adanya Virus Corona menginfeksi  tubuh manusia. Metode pemeriksaan ini membaca antibodi IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus.

Apabila hasil pemeriksaaan menunjukan reaktif (positif), maka terdapat indikasi orang tersebut telah terpapar virus. Apabila non-reatif (negatif), maka belum tentu orang yang bersangkutan dapat dinyatakan sehat 100 persen.

Falla menjelaskan bahwa seseorang yang mendapatkan hasil non-reaktif pada rapid test pertama harus mengulangi 5--7 hari kemudian, karena bisa saja saat pemeriksaaan pertama, perjalanan infeksi belum sempurna, sehingga antibodi belum terbentuk dan menghasilkan negatif yang keliru.

Pun bila mendapatkan hasil reaktif, tidak serta merta orang tersebut positif Covid-19. Seseorang dapat dinyatakan terinfeksi Virus Corona setelah melaksanakan tes swab yang merupakan standar utama untuk mendeteksi Covid-19.

Adapun, Kementerian Kesehatan secara resmi menetapkan batas maksimal tarif yang dibayarkan untuk pemeriksaan tes cepat (rapid test) antibodi sebesar Rp150.000. Ketentuan ini tertuang dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Tes Antibodi yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Bambang Wibowo pada Senin (6/7/2020).

Dalam surat tersebut, ketentuan tarif batas ditetapkan guna memberi kepastian kepada masyarakat dan pemberi layanan pemeriksaan rapid test sehingga tarif yang ada dapat memberi jaminan kemudahan dalam memperoleh layanan kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19 rapid test
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top