Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gagal Atasi Corona, Uni Eropa Pertimbangkan Larangan Masuk bagi Warga AS

Belum ada daftar negara yang warganya bakal dilarang masuk Uni Eropa. Akan tetapi, negara anggota setuju soal para pelancong dari negara mana saja yang mungkin dianggap aman untuk mengunjungi blok tersebut mulai 1 Juli
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  12:18 WIB
Bendera Uni Eropa - Reuters
Bendera Uni Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Negara-negara anggota Uni Eropa mempertimbangkan larangan bagi warga Amerika Serikat (AS) untuk masuk ke wilayahnya karena masih tingginya penyebaran wabah virus corona penyebab Covid-19 pada saat sebagain negara di kawasan itu melonggarkan penguncian yang telah berlangsung sejak Maret.

Menurut sumber CNN yang terlibat dalam pembicaraan soal larangan tersebut, belum ada daftar negara yang warganya bakal dilarang masuk Uni Eropa. Akan tetapi, negara anggota setuju soal para pelancong dari negara mana saja yang mungkin dianggap aman untuk mengunjungi blok tersebut mulai 1 Juli. Pedoman itu akan didasarkan pada bagaimana negara-negara asal menghadapi pandemi virus corona.

"Kriteria akan difokuskan pada peredaran virus," kata seorang diplomat Uni Eropa seperti dikutip CNN.com, Rabu (24/6/2020).

Namun, rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Eropa itu tidak bersifat wajib. Hanya pemerintahan satu negara yang dapat membuat keputusan untuk membuka dan menutup perbatasan.

Ketika ditanya apakah AS ada dalam daftar negara-negara asal yang mungkin dilarang bepergian ke Eropa, seorang diplomat UE mengarahkan CNN ke poin pertama daftar periksa 11 Juni yang diterbitkan oleh Komisi Eropa tentang apa yang harus dipertimbangkan ketika mengizinkan para pelancong ke UE.

Sebagai catatan, negara bagian Florida di AS melaporkan hampir 4.000 kasus virus corona baru atau rekor tertinggi peningkatan dalam satu satu hari di negara tersebut.

Poin pertama pada daftar pertimbangan adalah apakah negara tersebut dapat dianggap berada dalam situasi epidemiologis yang sebanding atau lebih baik rata-rata dari wilayah UE. Bagaimana jumlah jumlah infeksi baru, tren infeksi baru dan respons di berbagai bidang seperti pengujian, pengawasan, pelacakan, penahanan, perawatan dan pelaporan juga jadi pertimbangan.

AS memiliki jumlah kematian dan infeksi virus corona tertinggi di dunia. Hingga kemarin sore, setidaknya 2.329.637 terinfeksi di negara itu dan 121.029 meninggal dunia, menurut Pusat Sumber Daya Virus Corona Universitas Johns Hopkins.

Diplomat itu menambahkan bahwa beberapa negara Eropa "enggan membuka kembali wilayahnya sama sekali," karena takut akan gelombang kedua virus corona.

The New York Times melaporkan kemarin bahwa orang Amerika Serikat mungkin tidak dapat melakukan perjalanan ke blok Eropa saat melonggarkan kembali pembatasannya.

Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan kepada CNN,  bahwa pihaknya berkomitmen untuk berkoordinasi dengan mitra dan sekutu Eropa saat kami berharap untuk membuka kembali ekonomi kami dan mengurangi pembatasan.

Dia juga mengatakan terus mendesak warga AS untuk memeriksa situs web kedutaan AS yang relevan atau situs web konsulat untuk informasi tentang pembatasan masuk, kebijakan karantina asing, dan informasi kesehatan yang dikeluarkan  oleh pemerintah daerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top