Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rilis Target Iklim, Unilever Komitmen Nol Emisi Karbon pada 2039

Univeler kini menargetkan tak menghasilkan emisi kanrbon sama sekali dari operasinya sendiri dan dari pemasoknya pada 2039.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  18:21 WIB
Unilever - www.unilever.co.id
Unilever - www.unilever.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Unilever NV merilis serangkaian target baru terkait iklim yang menjadikannya sebagai perusahaan konsumer paling ambisius yang menangani emisi karbon.

Univeler kini menargetkan tak menghasilkan emisi kanrbon sama sekali dari operasinya sendiri dan dari pemasoknya pada 2039.

Selain itu, sebanyak 70.000 produk dari perusahaan itu akan menyertakan informasi pada kemasan tentang berapa banyak gas rumah kaca yang dikeluarkan dalam proses pembuatan dan pengirimannya ke konsumen.

Perusahaan juga berkomitmen untuk berinvestasi senilai 1 miliar euro (US$1,1 miliar) dalam inisiatif ramah lingkungan selama dekade berikutnya.

Marc Engel, Kepala Rantai Pasokan Global Unilever mengatakan, perusahaan mengeluarkan sekitar 100 juta metrik ton karbon dioksida setiap tahun. Sekitar 3 juta metrik ton emisi tersebut berada di bawah Lingkup 1 dan Lingkup 2, yang berarti dihasilkan oleh Unilever untuk mengoperasikan dan memberi daya pada pabriknya. Emisi-emisi itu akan dikurangi menjadi nol pada 2039 berdasarkan rencana baru.

Unilever selanjutnya berkomitmen untuk menghilangkan 30 juta metrik ton emisi yang diproduksi dalam penyediaan bahan baku atau pengiriman produk ke supermarket.

Pemasok yang menciptakan emisi ini, yang dikenal dengan Lingkup 3, akan diberi sembilan bulan untuk mengadopsi target iklim berbasis ilmu pengetahuan yang mengarah pada pemotongan emisi.

Sisa 65 juta metrik ton emisi perusahaan di bawah Lingkup 3 diproduksi dalam penggunaan produk Unilever. Unilever akan memangkasnya menjadi setengahnya pada 2030.

Sebagai bagian dari rencana iklim yang sama, Unilever berkomitmen untuk bebas deforestasi di seluruh rantai pasokan untuk lima bahan baku yang paling terkait dengan penebangan pohon, yakni minyak kelapa sawit, kedelai, teh, kertas, dan kakao.

Saat ini perusahaan bergantung pada sertifikasi yang dilakukan oleh pihak ketiga, tetapi beralih pada proses verifikasi yang akan menggunakan citra satelit dan teknologi blockchain.

"Sementara dunia menghadapi dampak dahsyat pandemi Covid-19 dan bergulat dengan masalah-masalah serius tentang ketidaksetaraan, kami tidak bisa membiarkan diri lupa bahwa krisis iklim masih merupakan ancaman bagi kita semua," kata Alan Jope, Kepala Eksekutif Unilever, dilansir Bloomberg, Senin (15/6/2020)..

Unilever akan berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar mungkin sebelum berupaya menyeimbangkan karbon. Hal itu dilakukan dengan mendanai kegiatan seperti penanaman pohon, restorasi bentang alam, dan pertanian regeneratif yang semuanya dapat menyedot karbon dari udara dan memasukkannya kembali ke tanah.

Tugas yang paling menantang adalah pemberian label karbon pada semua produknya. Beberapa perusahaan, seperti pembuat susu oat Oatly Inc., sudah mulai mencetak pada kemasan mereka berapa kilogram karbon dioksida yang dilepaskan dalam pembuatan produk.

Engel berniat melakukan itu untuk seluruh inventaris Unilever, mulai dari sampo, kopi, mayones, hingga deodoran.

Saat ini, tidak ada standar atau verifikasi pihak ketiga yang tersedia, yang berarti bahwa konsumen harus mempercayai kata-kata perusahaan untuk itu. Namun, Engel berharap pesaing Unilever akan mengikuti dan segera akan ada standard independen untuk pelabelan karbon, seperti halnya ada label nutrisi pada bahan makanan.

"Ini komitmen yang sangat besar, tetapi kami jelas melihat bahwa konsumen ingin tahu bagaimana produk yang mereka beli berkontribusi pada jejak karbon mereka sendiri," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unilever emisi karbon

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top