Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi Covid-19 Dorong Reorganisasi, BP Kurangi 10.000 Pekerja

Pandemi Covid-19 telah memukul kinerja keuangan dan memaksa banyak perusahaan untuk mengubah cara mereka beroperasi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 09 Juni 2020  |  06:24 WIB
BP Plc. berencana mengurangi 10.000 pekerja setelah kemerosotan harga minyak  -  Bloomberg
BP Plc. berencana mengurangi 10.000 pekerja setelah kemerosotan harga minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa minyak bumi dunia, BP Plc., berencana mengurangi 10.000 pekerja setelah kemerosotan harga minyak mempercepat langkah perusahaan untuk transisi ke energi yang lebih bersih.

Melalui sebuah memo internal, CEO Bernard Looney mengungkapkan BP akan memangkas 14 persen dari tenaga kerjanya. Tindakan ini sebagian besar akan berdampak pada staf kantor dan yang memegang peran senior. Diperkirakan 400 posisi teratas akan terpangkas sepertiganya.

Menurut Looney menuturkan pengurangan ini sejalan dengan rencana yang ditetapkan pada Februari untuk mempersiapkan BP melakukan pengurangan emisi karbon yang signifikan.

Pada saat itu, Looney mengatakan BP akan membongkar bisnis hulu dan hilirnya sekaligus menggantinya dengan 11 tim baru.

“Saya pikir akan menjadi hal yang tidak jujur untuk tidak mengemukakan bahwa akan ada sedikit PHK staf sebagai bagian dari program ini,” ungkap Looney dalam wawancara dengan Bloomberg pada Februari.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 telah memukul kinerja keuangan dan memaksa banyak perusahaan untuk mengubah cara mereka beroperasi.

Pesaing BP, Royal Dutch Shell Plc., dikabarkan menawarkan redundansi sukarela sebagai upaya untuk menjadi lebih ramping, sedangkan Chevron Corp. dan Marathon Oil Corp. menjadi dua di antara yang merumahkan karyawannya.

Namun, pandemi virus mematikan tersebut dan kemerosotan harga minyak mentah yang berkelanjutan telah mempercepat proses ini, sehingga mengarahkan BP untuk bertindak lebih cepat yang semula dimaksudkan.

Analis Jefferies, Jason Gammel, mengatakan BP selalu lebih cenderung melakukan perubahan pada jumlah karyawan ketimbang perusahaan minyak lain di Eropa, Shell, yang sebagian besar melanjutkan operasi seperti sebelumnya.

“Saya terkejut dengan pengurangan sebesar itu,” tutur Gammel, dikutip dari Bloomberg, Selasa (9/6/2020).

Beberapa hari setelah mengambil alih kendali BP, Looney mengumumkan bahwa perusahaan yang berkantor pusat di London ini akan menghapus semua emisi dari operasi dan produksinya sendiri pada tahun 2050, serta memangkas emisi yang diproduksi oleh konsumennya.

Sejak itu, harga minyak telah jatuh karena pandemi Covid-19 menekan permintaan, serta memaksa produsen untuk membatasi pengeluaran dan menunda proyek. Looney bersikeras bahwa krisis ini justru memperkuat kebutuhan untuk "kembali menciptakan BP" dan terus maju dengan ambisi iklim yang baru.

Bulan lalu, BP memulai fase kedua reorganisasi, mengurangi posisi manajer senior menjadi sekitar 120 orang dari 250 orang. Karyawan di stasiun pengisian bahan bakar tidak masuk dalam reorganisasi karena dipandang sebagai pekerja garis depan.

“Dampak nyata dari pengurangan pekerja dan reorganisasi untuk perusahaan besar Inggris ini kemungkinan akan menjadi jelas pada bulan September,” tambah Gammel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak phk british petroleum covid-19

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top