Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Di Balik Kendurnya Restriksi Ekspor Pangan

Sekitar separuh dari sedikitnya 17 negara yang berupaya membatasi ekspor untuk mengamankan pasokan lokal, tidak lagi menerapkan atau mengendurkan langkah restriksi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 06 Mei 2020  |  08:11 WIB
Gandum dan tepung terigu. - Istimewa
Gandum dan tepung terigu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  International Food Policy Research Institute (IFPRI) mengklaim sekitar separuh dari sedikitnya 17 negara yang berupaya membatasi ekspor untuk mengamankan pasokan lokal, tidak lagi menerapkan atau mengendurkan langkah restriksi.

Dari laporan tersebut, kelompok yang melonggarkan pembatasan ekspor termasuk beberapa produsen gandum utama, seperti Ukraina dan Rumania.

Namun, Rusia tetap mempertahankan kebijakan restriksi ekspor gandum dengan kuota 7 juta ton hingga akhir Juni.

Langkah beberapa negara itu mengurangi kekhawatiran tentang kekurangan makanan di berbagai belahan dunia karena rantai pasok terus tersambung meskipun di tengah kebijakan karantina wilayah (lockdown) di banyak negara.

Di sisi lain, pembatasan ekspor secara jangka pendek telah mengakibatkan panenan rusak dan kargo terbengkalai.

Organisasi seperti PBB telah mendesak negara-negara menghindari restriksi ekspor yang dapat membahayakan keamanan pangan dan melambungkan harga.

“Sebenarnya tidak ada isu dengan stok pangan yang ketat. Langkah ini [restriksi ekspor] hanya akan merugikan negara-negara itu sendiri,” kata ekonom senior

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB Abdolreza Abbassian, dilansir Bloomberg, Selasa (5/5/2020).

Peneliti senior IFPRI Joseph Glauber mengatakan, setelah meyakinkan bahwa pasokan global aman, organisasi internasional mendorong banyak negara untuk melonggarkan kebijakan pembatasan ekspor.

Namun dalam hal ini, Rusia tetap merupakan pengecualian. Selain itu, risiko gagal panen akibat cuaca buruk juga dapat berarti Negeri Beruang Merah akan menerapkan pembatasan pada produk lainnya.

“Kami berharap ini adalah akhir dari pembatasan ekspor. Namun, orang-orang akan mengawasi negara-negara seperti Rusia untuk melihat apakah kuota dan pembatasan saat ini diperpanjang ke panen berikutnya,” kata Glauber.

Seorang pekerja menyiapkan pesanan untuk pelanggan di gudang PangananDotCom, milik Bulog, di Jakarta, Indonesia, pada Selasa (7/4/2020)/ Bloomberg - Dimas Ardian

Dewan Biji-bijian Internasional memperkirakan panen gandum dan padi serta hujan di kawasan Uni Eropa dan Laut Hitam telah membantu meredakan kecemasan tentang kekeringan selama masa tanam hingga musim panen.

Sementara itu, kebijakan restriksi yang sedang berlangsung juga berisiko merusak reputasi eksportir sebagai pemasok yang dapat diandalkan.

Manuver itu juga dapat berdampak negatif bagi petani karena perbedaan Antara harga lokal dengan harga pasar internasional.

EKSPOR GANDUM

Rumania, pengirim gandum terbesar kedua Uni Eropa, mengakhiri pembatasan ekspor biji-bijian keluar blok ekonomi itu, hanya sepekan setelah restriksi diterapkan.

Pembatalan keputusan terjadi setelah Komisi Eropa menyatakan ketidaksetujuan atas pembatasan yang sempat menghentikan setidaknya satu kargo gandum yang hendak dikapalkan ke importer utama Mesir.

Pemerintah Rumania dalam pernyataan terbarunya meyakini cadangan akan bertahan hingga musim panen. Bukares mengatakan tidak ada risiko kelangkaan makanan pokok di tengah penutupan restoran.

Namun, pemerintah mengingatkan kekeringan dapat mengurangi prospek panen dan pembatasan ekspor dapat diberlakukan kembali jika diperlukan.

Sementara itu, Kazakhstan, salah satu penghasil tepung utama dunia mengisyaratkan pembatasan ekspor pada produk dan biji-bijian lainnya mungkin berakhir Juni mendatang.

Negara itu menambah kuota pengiriman Mei dan menggandakan stok tepung menjadi 150.000 ton.

Selain itu, setelah menghapus larangan ekspor sayur selama sebulan, Pemerintah Kazakhstan akhirnya mengimpor kubis untuk cadangan domestik. Langkah itu ditempuh setelah Kepala Wilayah

Turkistan meminta bantuan Kazakhstan menjual 250.000 ton hasil panen karena penurunan permintaan Rusia mendorong harga lebih rendah.

Di Vietnam, pembatasan ekspor beras berakhir awal Mei. Pembatasan oleh eksportir beras terbesar ketiga di dunia itu telah menyebabkan harga patokan melonjak di tengah kekhawatiran bahwa produsen lain mengikuti langkah yang sama.

Kargo pun rusak ketika ribuan kontainer menumpuk di pelabuhan. Para petani Vietnam mengumpulkan panen yang cukup meskipun mengalami kekeringan. Sementara itu, pemerintah menyatakan penjualan dapat dilanjutkan secara normal sehingga melegakan eksportir yang menderita kerugian finansial dan importir terdekat, seperti Jepang dan Australia.

Ukraina, salah satu penghasil jagung dunia, memutuskan menentang pembatasan penjualan setelah bertemu dengan pedagang besar akhir April.

Para pejabat akan terus memantau pasokan meskipun permintaan jagung global merosot. Harga minyak yang anjlok membuat produksi dan harga biofuel Ukraina berada di level terendah dalam 4 bulan terakhir.

Negara di Laut Hitam itu juga menjaga batas penjualan gandum hingga akhir musim ini dengan persediaan 1,1 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor gandum pangan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top