Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Begini Strategi Pemerintah Atasi Defisit Gula Pasir

Kebutuhan gula pasir periode Maret - April 2020 diperkirakan sebesar 302.000 ton.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 28 April 2020  |  16:06 WIB
Salah satu pedagang gula dipasar tradisional sedang mengemasi gula pasir untuk dijual kembali  -  Arief Rahman
Salah satu pedagang gula dipasar tradisional sedang mengemasi gula pasir untuk dijual kembali - Arief Rahman

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah untuk mengatasi kekurangan stok gula pasir. Kebutuhan gula pasir periode Maret-April diperkirakan sebesar 302.000 ton.

Airlangga menjelaskan bahwa Perum Bulog telah mengontrak 51.300 ton gula pasir. Sebanyak 21.000 ton di antaranya impor dan 29.000 ton lainnya dari pabrik gula lokal.

“Kemudian pengalihan dari gula rafinasi sebanyak 191.762 ton dan ini adalah masalah repackaging dan izin peredaran, sehingga akan ada 182.762 ton yang akan masuk ke pasar,” kata Airlangga usai rapat terbatas mengenai antisipasi kebutuhan bahan pokok dengan Presiden Joko Widodo melalui video conference, Selasa (28/4/2020).

Dia melanjutkan gula di pabrik dan diharapkan masuk pengolahan pada Maret 2020 sebanyak 42.072 ton. Selain itu, pabrik gula BUMN dan swasta memiliki stok sebanyak 47.772 ton.

“Pemerintah akan melihat dan mengawal agar gula ini bisa dikeluarkan di daerah-daerah yang membutuhkan terutama di 30 provinsi. Nanti kami akan monitor secara mingguan dan pemerintah sudah tugaskan satgas pangan untuk mengawal komoditas tersebut,” katanya.

Adapun, dalam pembukaan rapat terbatas, Presiden Joko Widodo mendapatkan laporan sejumlah daerah mengalami defisit bahan pokok. Berdasarkan catatannya, kelangkaan paling menyeluruh secara nasional tejadi pada bawang putih. Sebanyak 31 provinsi mengalami kekurangan stok satu bumbu dapur utama tersebut.

Selain itu dia juga mendapatkan laporan 7 pronvisi terjadi kekurangan stok beras. Sementara itu defisit jagung terjadi di 11 provinsi, cabai besar 23 provinsi, cabai rawit 19 provinsi, bawang merah 1 provinsi, telur ayam 22 provinsi, dan gula pasir 30 provinsi. Hanya kebutuhan minyak goreng yang dipastikan cukup bagi 34 provinsi.

Oleh sebab itu Jokowi meminta pendataan kebutuhan bahan pokok setiap daerah harus dilakukan dengan cepat. Dengan demikian proses distribusi antar daerah dapat berjalan dengan lancar.

“Pastikan distribusi baik sehingga daerah yang defisit kebutuhan pokok bisa disupai dari daerah yang surplus, jadi antar wilayah antar pulau distribusi tidak boleh terganggu,” kata Jokowi.

Airlangga mengatakan terkait beras, stok secara nasional sebanyak 6,3 juta ton. Demikian juga jagung sebanyak 1,4 juta ton, cabai besar 12.641 ton, cabai rawit 26.353 ton, bawang merah 1.307.462 ton, telur ayam 46.413 ton, daging ayam 154.763 ton, daging sapi 133.944 ton.

Sementara itu, untuk bawang putih, dia menyatakan pemerintah sudah mengeluarkan izin untuk impor yang cukup besar, tetapi realisasinya masih 72.400 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bahan pokok gula pasir Virus Corona
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top