Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perundingan Brexit Kembali Digelar Pekan Ini

Setelah penundaan selama enam minggu karena pandemi virus corona, Inggris dan Uni Eropa hari ini kembali ke meja perundingan mengenai hubungan masa depan keduanya pascabrexit.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 20 April 2020  |  11:19 WIB
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah penundaan selama enam minggu karena pandemi virus corona, Inggris dan Uni Eropa hari ini kembali ke meja perundingan mengenai hubungan masa depan keduanya pascabrexit.

Para pejabat akan bertemu melalui konferensi video hari ini dan selama pekan ini, setelah perundingan perdana di Brussels awal Maret 2020.

Tidak lama setelah pertemuan itu, David Frost dan Michel Barnier, kepala negosiator kedua belah pihak, dikarantina karena menunjukkan gejala virus corona. Kedua belah pihak melanjutkan pembicaraan karena Inggris menolak memperpanjang tenggat waktu perundingan. Para pejabat mengatakan telah membuat sedikit kemajuan di luar bidang utama ketidaksepakatan.

Setelah meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020, Inggris memiliki periode transisi hingga 31 Desember 2020 untuk menyelesaikan hubungan masa depannya dengan blok ekonomi di bidang-bidang utama seperti perdagangan, keamanan dan kerjasama penerbangan.

"Ada banyak divergensi serius. Namun sebuah perjanjian mungkin dicapai biarpun sulit," kata Barnier setelah putaran pertama negosiasi, dilansir Bloomberg, Senin (20/4/2020).

Hingga akhir Juni, kedua belah pihak dapat meminta periode transisi diperpanjang hingga dua tahun, tergantung pada persetujuan. Banyak bisnis di Inggris, khawatir akan gangguan ekonomi dari Brexit, ditambah dampak virus corona dan mengusulkan tambahan waktu.

Namun, pemerintah Boris Johnson, yang tidak menyetujui penundaan Brexit lebih lanjut atau pembayaran ke kas Uni Eropa, telah berulang kali mengesampingkan meminta penundaan. Johnson mengatakan minggu lalu akan memveto permintaan Uni Eropa untuk hal itu.

"Transisi berakhir pada 31 Desember tahun ini. Kami tidak akan meminta untuk memperpanjangnya. Jika UE meminta, kami akan mengatakan tidak," kata Frost di Twitter pekan lalu.

Jika kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan, Inggris akan berstatus default untuk perdagangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia.

Barnier dan Frost akan memimpin sesi pembukaan pada sore ini. Selama tiga hari berikutnya, negosiator akan membahas perdagangan barang, perdagangan jasa, dan cara mencegah persaingan tidak sehat, sebelum sesi penutup pada Jumat mendatang.

Selama minggu ini juga akan ada diskusi tentang hak penangkapan ikan, transportasi jalan dan penerbangan, kerja sama energi dan nuklir, penegakan hukum serta bagaimana kesepakatan apa pun harus diatur.

Adapun bidang-bidang utama ketidaksepakatan antara lain, pertama, kebijakan persaingan, di mana UE ingin Inggris berkomitmen untuk melakukan apa yang disebut level playing field untuk mencegah ekonomi blok terpuruk.

Kedua, peradilan pidana dan penegakan hukum, di mana Inggris mengatakan ingin menarik diri dari Pengadilan Eropa dan Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, sesuatu yang ditentang oleh UE. Ketiga, UE ingin melanjutkan akses ke perairan Inggris.

Dua putaran konferensi video selanjutnya akan diselenggarakan pada 11 Mei dan 1 Juni. Para pejabat juga telah merencanakan untuk mengadakan negosiasi selama lima minggu pada pertengahan Mei.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Brexit

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top