Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akibat Covid-19, China Dituding Rasis Usai Usir Orang Afrika dari Rumah

Pernyataan tersebut ditolak mentah-mentah oleh pemerintah China. Menurutnya, tidak ada perlakuan berbeda antara warga China maupun warga asing. Amerika ikut-ikutan mengecam sikap China itu.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 13 April 2020  |  16:26 WIB
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing -  Bloomber / Qilai Shen
Kantor pusat People's Bank of China di Beijing - Bloomber / Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA - Hubungan diplomasi antara China dan Afrika kini tegang. Eskalasi itu terjadi usai tindakan yang dinilai rasis China kepada salah orang warga asal Afrika di Guangzhou.

Hal ini bermula dari pelajar dan ekspatriat di Guangzhou yang dipaksa melakukan tes virus Corona (Covid-19) dan karantina mandiri selama 14 hari.

Banyak dari mereka akhirnya tidur di jalanan lantaran diusir oleh pemilik tempat tinggalnya dan ditolak oleh hotel.

Berdasarkan laporan dari Channel News Asia, Senin (13/4/2020), laporan diskriminasi pertama berasal dari delapan orang yang didiagnosis Covid-19 menghabiskan waktu di distrik kota Yuexiu, yang dikenal sebagai "Little Africa".

Hal ini mengakibatkan ketegangan diplomasi antar kedua negara. Bahkan, salah seorang anggota parlemen meminta warga China pergi dari Kenya.

Amerika Serikat ikut mengecam apa yang disebutnya "xenophobia terhadap orang Afrika oleh otoritas China."

Dilansir dari CNN International, Senin (13/4), surat kabar terbesar Kenya memasang headline berjudul “Orang Kenya di China: Selamatkan Kami dari Neraka.”

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara Afrika telah menjadi mitra diplomatik dan perdagangan utama bagi Beijing. Nilai perdagangan China-Afrika mencapai US$208 miliar pada 2019, menurut angka resmi dari Administrasi Umum Bea Cukai Cina.

Merespons hal tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengelak kritik yang menyatakan China bertindak mengasingkan para warga negara asing.

"Kami masih menghadapi risiko kasus impor dan munculnya lagi kasus lokal. Khususnya, ketika pandemi sudah menyebar ke seluruh dunia, kasus impor meningkat. Seluruh warga asing diperlakukan sama. Kami menolak perlakuan berbeda dan tidak mentoleransi diskriminasi,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus impor Covid-19 terus menanjak. Berdasarkan laporan Bloomberg, China mencatatkan kasus baru mencapai 108 orang pada Minggu. Sebanyak 98 kasus merupakan kasus impor.

Selain itu, terdapat 61 kasus tanpa gejala yang menjadikan 1.064 asymptomatic kasus yang tengah ditangani medis.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona
Editor : Andya Dhyaksa

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top