Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lelang Obligasi India Sebesar US$64,5 miliar Terancam Akibat Lockdown

pemerintah India mengatakan mereka akan akan menjual 4,88 triliun rupee atau setara dengan US$64,5 miliar obligasi dalam enam bulan hingga September.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 01 April 2020  |  10:21 WIB
Gedung National Stock Exchange (NSE) di Mumbai, India. - nseindia.com
Gedung National Stock Exchange (NSE) di Mumbai, India. - nseindia.com

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah kekisruhan lockdown India, program pinjaman yang direncanakan Perdana Menteri India Narendra Modi bakal menghadapi awal yang sulit.

Seperti dilansir dari Bloomberg, pada Selasa (31/3/2020) pemerintah India mengatakan mereka akan akan menjual 4,88 triliun rupee atau setara dengan US$64,5 miliar obligasi dalam enam bulan hingga September.

Meskipun jumlahnya kurang dari yang diharapkan pasar, lelang mungkin mendapatkan tawaran lebih sedikit karena kebijakan India untuk menghentikan penyebaran virus corona memaksa para trader dan bankir untuk tetap tinggal di dalam rumah.

Bendahara HDFC Bank Ltd. Ashish Parthasarthy mengatakan tidak semua kategori investor dapat diarahkan untuk berpartisipasi, sehingga penawaran mungkin kurang dari yang seharusnya dalam keadaan normal.

"Dalam lingkungan saat ini, kecil kemungkinannya bahwa para peserta akan mengambil pendekatan agresif terhadap investasi baru," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (1/4/2020)

Adapun dampak knock-on dari pembatasan darurat di pasar keuangan India adalah mengeringnya volume dan lonjakan volatilitas. Omzet perdagangan rata-rata hanya 353 miliar rupee minggu lalu, dibandingkan rata-rata harian 433 miliar rupee sepanjang tahun ini.

Sebagai contoh, tidak ada obligasi yang dibeli atau dijual pada setengah jam pertama sesi perdagangan pada 24 Maret lalu. Bahkan, butuh lebih dari 10 menit untuk kesepakatan pertama untuk menyeberangi platform perdagangan pada hari Senin.

Kesulitan kerja jarak jauh (remote working) banyak dialami karena bank global telah memulangkan banyak staf mereka ke negaranya masing-masing untuk membendung penyebaran pandemi.

Para trader juga kesulitan menyesuaikan diri dengan rezim seperti ini karena mereka bergantung pada koneksi internet berkecepatan tinggi dan layar perdagangan yang hanya tersedia di kantor. Persyaratan kepatuhan mencatat setiap perdagangan dan memastikan tidak ada pelanggaran keamanan menambah kesulitan.

Head of Forex and Fixed Income First Rand Bank in Mumbai Paresh Nayar mengaku frustasi dengan cara kerja jarak jauh tersebut. Apalagi aturan bank setempat melarang trader untuk mengambil peran aktif.

"Saya merasa ingin menendang diri sendiri ketika saya tidak bisa berdagang, tetapi hanya menonton," katanya.

Di sisi lain, Sekretaris Urusan Ekonomi Atanu Chakraborty menyebut pemerintah tetap mengharapkan permintaan besar dari pasar untuk obligasinya. Bahkan berupaya untuk meningkatkan penawaran 62,5 persen dari rekor 7,8 triliun rupee.

Lelang yang dimulai pada 10 April mendatang hadir seiring ekspektasi investor global akan adanya lonjakan suplai tahun ini untuk mendanai rencana stimulus. Jerman, Prancis, Spanyol, dan Italia diperkirakan akan berhutang lelang sebesar 25 miliar euro (US$28 miliar) selama periode 30 Maret-3 April.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi india Lockdown
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top