Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Serangan COVID-19, Kematian Pria Lebih Tinggi daripada Wanita

Tingkat kematian akibat virus corona baru (COVID-19) pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan pada wanita.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  20:47 WIB
Seorang pria mengenakan masker di Times Square, New York./Bloomberg-John Nacion/STAR MAX - IPx via AP Photo
Seorang pria mengenakan masker di Times Square, New York./Bloomberg-John Nacion/STAR MAX - IPx via AP Photo

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat kematian akibat virus corona baru (COVID-19) pada pria lebih tinggi dibandingkan dengan pada wanita, demikian data di berbagai negara menunjukkan.

Selain kondisi kesehatan yang secara umum buruk dan kebiasaan seperti merokok dan minum minuman keras, yang dapat merusak paru-paru, di kalangan pria, sejumlah pakar terkemuka mengatakan kepada Xinhua bahwa pengaruh hormon terhadap respons kekebalan tubuh kemungkinan juga memainkan peran penting dalam fenomena ini.

Ketika berbicara dalam taklimat harian yang digelar di Gedung Putih, Dr. Deborah Birx, Direktur Gugus Tugas COVID-19 Gedung Putih, mengatakan sebuah laporan dari Italia menunjukkan bahwa tingkat kematian pria dari hampir seluruh kelompok usia lebih tinggi dibandingkan wanita. Dia menyebut fenomena itu sebagai "tren yang meresahkan."

Menurut otoritas kesehatan Italia, pria menguasai 58 persen dari seluruh 13.882 kasus COVID-19 di negara tersebut antara 21 Februari hingga 12 Maret, serta 72 persen dari 803 kematian yang dilaporkan.

Pasien pria yang terjangkit COVID-19 dan dirawat di rumah sakit 75 persen lebih mungkin meninggal dibandingkan pasien wanita yang menjalani perawatan serupa.

Data dari beberapa negara lainnya juga menunjukkan bahwa kematian akibat COVID-19 lebih banyak terjadi pada pria ketimbang wanita.

Sebuah laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China mengindikasikan bahwa tingkat mortalitas di kalangan pria yang dikonfirmasi terinfeksi COVID-19 sekitar 65 persen lebih tinggi dibandingkan tingkat kematian di kalangan wanita.

Berbagai kebiasaan tidak sehat, seperti merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol, lebih sering dilakukan oleh pria dibandingkan wanita. Kebiasaan-kebiasaan itu dapat merusak paru-paru dan mengakibatkan peradangan ketika melawan infeksi, kata sejumlah pakar.

Pria cenderung memiliki lebih banyak penyakit terselubung, seperti hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru kronis, menurut Global Health 50/50, sebuah institut penelitian yang mempelajari ketidaksetaraan gender di bidang kesehatan global.

"Meski sejumlah faktor lain yang dapat memicu infeksi parah, seperti riwayat merokok dan penyakit jantung, juga berbeda pada pria dan wanita, sistem imun diketahui berfungsi dengan cara yang berbeda pada tubuh keduanya (pria dan wanita)," papar Susan Kovats, ahli imunologi dan mikrobiologi dari Yayasan Penelitian Medis Oklahoma (Oklahoma Medical Research Foundation).

Perbedaan terkait gender dalam tingkat kemunculan dan keparahan infeksi virus pernapasan terlihat jelas pada manusia dan model tikus, serta sejalan dengan perbedaan dalam hal aktivitas sel imun, imbuhnya.

Sel-sel imun mampu merespons hormon estrogen dan testosteron, yang mengindikasikan bahwa perbedaan kadar hormon-hormon ini pada pria dan wanita mungkin saja berperan dalam respons imun mereka yang berbeda, papar Kovats.

Ketika merespons beberapa virus, jika dibandingkan dengan sel-sel pria, sel-sel pada tubuh wanita memproduksi protein yang disebut "interferon" dengan level lebih tinggi. Interferon merupakan bagian penting dari respons imun bawaan awal. Protein tersebut memicu aliran protein yang secara langsung bersifat antivirus dan bertindak untuk meredakan penyebaran virus, menurut Kovats.

"Bukti memang menunjukkan bahwa produksi interferon didukung oleh estrogen. Dalam infeksi virus pernapasan, kapasitas yang lebih besar untuk memproduksi interferon dapat membantu meredakan penyebaran virus dan kerusakan paru-paru pada wanita," tuturnya.

Dr. Stanley Perlman, profesor mikrobiologi dan imunologi dari Universitas Iowa, mempelajari sejumlah tikus jantan dan betina yang terinfeksi beberapa jenis coronavirus, yaitu coronavirus pemicu sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome/SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (Middle East respiratory syndrome/MERS).

Dia menemukan bahwa tikus-tikus jantan lebih rentan terinfeksi dibandingkan tikus betina di segala usia.

"Eksperimen-eksperimen yang kami lakukan pada tikus mengindikasikan bahwa hal ini sebagian bersifat hormonal. Jika kita menghilangkan estrogen dari tikus-tikus itu, mereka (tikus betina) akan sama sensitifnya terhadap SARS-CoV dengan tikus jantan," kata Perlman.

Respons imun antara pria dan wanita kemungkinan berkaitan dengan hormon, tetapi masih belum dipahami dengan baik, kata Kent Pinkerton, profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas California Davis.

Jika para ilmuwan berhasil mengungkap cara kerjanya, mereka dapat mengidentifikasi strategi yang lebih baik untuk melawan infeksi corona secara umum, tutur para pakar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19

Sumber : Antara/Xinhua

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top