Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS Pangkas Dana Bantuan ke Afghanistan US$1 Miliar

Amerika Serikat akan memangkas bantuan dana ke Afghanistan senilai US$1 miliar pada tahun ini. Hal ini dinilai akan mengancam perdamaian Amerika - Taliban.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  14:39 WIB
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat akan memangkas bantuan dana ke Afghanistan senilai US$1 miliar pada tahun ini. Hal ini dinilai akan mengancam perdamaian Amerika - Taliban.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2020), beberapa jam setelah meninggalkan Kabul, Menlu Michael Pompeo menyatakan bahwa Amerika Serikat menyesalkan kegagalan Presiden Ashraf Ghani dan mantan Kepala Eksekutif Abdullah Abdullah dalam membentuk pemerintahan bersama.

Pompeo mengatakan AS memangkas US$1 miliar lantaran gangguan yang berasal dari pemilihan nasional yang disengketakan akhir tahun lalu.

"Kegagalan mereka telah merusak hubungan AS - Afghanistan. Dan sayangnya mempermalukan orang-orang Afghanistan. Amerika dan mitra koalisi telah mengorbankan hidup dan harta mereka dalam perjuangan untuk membangun masa depan baru bagi negara ini," kata Pompeo.

Pemangkasan tersebut mungkin akan dilakukan kembali pada 2021 dengan nilai yang sama.

Pompeo menilai pemerintah Afghanistan gagal untuk menengahi perjanjian antara Amerika Serikat dan Taliban yang telah mencatatkan peperangan terpanjang sepanjang sejarah Amerika. Perjanjian ini berlangsung di Doha dengan tenggang waktu yang sudah terlewat yakni 10 Maret.

Dengan kemenangan Ghani dan Abdullah pada pemilu tahun lalu, mereka memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan Taliban.

“Mereka masih tidak dapat melihat jalan mereka untuk menyusun tim, tim inklusif. Itu sebabnya Anda melihat dalam pernyataan kami bahwa kami kecewa bahwa mereka tidak mampu untuk melakukannya,” tuturnya.

Kebuntuan antara Ghani dan Abdullah sudah terjadi pada pemilihan presiden sebelumnya pada 2014 antara kandidat yang sama.

Sekretaris Negara John Kerry pada saat itu turun tangan dan menengahi kesepakatan di menit terakhir yang memberi Ghani kursi kepresidenan dan posisi kepala eksekutif untuk Abdullah. Pompeo tidak bisa membuat kedua politisi tersebut menyetujui kompromi yang sama.

Peperangan Amerika-Taliban telah berlangsung selama hampir dua dekade dengan pengeluaran hingga US$900 miliar, Taliban berada pada posisi terkuat mereka sejak digulingkan oleh pasukan Amerika.

Pasukan Taliban menguasai sekitar setengah negara, sementara produksi opium hampir mencapai rekor tertinggi dalam setahun terakhir.

Salah satu faktor utama ketidaksepakatan antara pemerintah Afghanistan dan Taliban adalah pembebasan tahanan. Kesepakatan damai di Qatar tersebut menyerukan agar sekitar 5.000 tahanan Taliban dibebaskan. Namun, upaya itu terhenti di tengah perebutan kekuasaan Ghani-Abdullah.

"Mereka berkomitmen untuk mengurangi kekerasan dan mereka sebagian besar telah melakukan itu," kata Pompeo. "Mereka sedang berupaya untuk mengantarkan tim mereka ke negosiasi akhir."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat afghanistan taliban
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top