Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Kematian Akibat COVID-19 di Jerman Hanya 0,35 Persen, Ini Alasannya

Jerman melawan tren lonjakan jumlah kematian akibat virus corona (COVID-19) di Eropa. Hingga Selasa (24/3/2020), jumlah korban meninggal di negara ini tercatat 123 jiwa.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Maret 2020  |  08:08 WIB
Suasana lockdown di Kota Munich, Jerman - Bloomberg
Suasana lockdown di Kota Munich, Jerman - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Jerman melawan tren lonjakan jumlah kematian akibat virus corona (COVID-19) di Eropa. Hingga Selasa (24/3/2020), jumlah korban meninggal di negara ini tercatat 123 jiwa.

Angka ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Eropa, terutama Italia dan Spanyol. Berdasarkan data worldometers.info, jumlah korban meninggal dunia di Italia mencapai 6.077 hingga Selasa (24/3/2020), bertambah 601 jiwa dari hari sebelumnya.

Meskipun Jerman mencatat jumlah infeksi yang tidak sedikit, yaitu 35.136 kasus per hari ini, tingkat kematian akibat COVID-19 hanya mencapai 0,35 persen. Sebagai perbandingan, tingkat kematian di Italia mencapai 9,5 persen, sedangkan di Spanyol mencapai 6,58 persen dengan total korban meninggal sebanyak 2.311.

Kepala kesehatan masyarakat Jerman Lothar Wieler juga mengungkapkan kurva infeksi COVID-19 di menunjukkan tanda-tanda melandai, sebagian berkat langkah-langkah pencegahan, termasuk social distancing.

"Kami melihat tanda-tanda bahwa kurva pertumbuhan kasus yang mulai mendatar. Tetapi saya akan mengonfirmasi tren ini secara pasti pada hari Rabu,” ungkap Wieler, seperti dikutip Sky News.

Terkait dengan tingkat kematian yang rendah di Jerman, para ahli mengatakan hal ini didorong oleh fakta bahwa negara ini memiliki salah satu layanan rumah sakit dengan konsentrasi tertinggi di dunia.

Dikutip dari The Sun, pemerintah Jerman mengatakan akan menggandakan jumlah tempat perawatan intensif (ICU) menjadi sekitar 56.000 tempat tidur di tengah wabah COVID-19.

Sebaliknya, Inggris hanya memiliki 4.000 tempat tidur ICU. Bahkan di Italia, dokter dikabarkan terpaksa memilih pasien tertentu yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut.

Selain lebih banyak ruang perawatan ICU, direktur darurat kesehatan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr Mike Ryan juga mengungkapkan jumlah pengujian yang masif di Jerman juga berkontribusi pada terkendalinya jumlah kematian.

"Jerman telah memiliki proses pengujian yang sangat agresif, sehingga kasus yang lebih ringan dapat terdeteksi lebih dini," ungkapnya, seperti dikutip The Sun.

Wieler juga menambahkan bahwa sejak awal Jerman telah mengimbau seluruh dokter untuk melakukan pengetesan lebih banyak. "Kami melakukan pengetesan dengan jumlah yang besar sehingga kami dapat dengan mudah mengidentifikasi awal epidemi."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jerman Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top