Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Masa Karantina Sang Pemburu Berita ODP Virus Corona

Mewawancarai masyarakat hingga pejabat negara dan menuangkannya menjadi tulisan adalah tugas harian seorang jurnalis.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  20:14 WIB
Ilustrasi wartawan - istimewa
Ilustrasi wartawan - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Muhammad Khadafi tak ingin buang waktu. Sehari setelah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif Covid-19, dia buru-buru memeriksa diri ke RSPI Sulianti Saroso, Jakarta. Hasilnya, pria itu harus menjalani isolasi di rumah selama 14 hari.

Dafi -akrab disapa- berprofesi sebagai jurnalis. Dia ditunjuk sebagai wartawan di lingkungan Istana Kepresidenan. Agenda Joko Widodo menjadi santapan hariannya. Termasuk diantaranya rapat terbatas antarmenteri.

Satu pekan sebelumnya, Khadafi meliput rapat terbatas pada 4 Maret 2020 di Istana Kepresidenan. Setelah rapat, beberapa jurnalis sempat foto bersama dengan Budi Karya.

Khadafi tak masuk satu frame dengan Menhub. Dia berjarak beberapa meter dengan mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu. Sebagai bukti, dia sempat menunjukkan foto tersebut kepada Bisnis.

“Tapi jaraknya aman lah saat itu, sesuai anjuran WHO [organisasi kesehatan dunia], ha ha,” selorohnya, Sabtu (14/3/2020) sore.

Celakanya, sekitar 4 jam setelah perbincangan itu pemerintah mengumumkan Budi Karya positif terserang virus Corona. Tadinya, usai liputan Dafi berencana menjemput istrinya di rumah keluarga. Namun kemudian dibatalkan karena khawatir menyebar virus ke pasangannya.

Pascapengumuman malam itu, seluruh awak media di lingkungan Istana Kepresidenan menjadi orang dalam pemantauan atau ODP. Pasalnya mereka sempat kontak dekat dengan Menhub selama sepekan, tak terkecuali Dafi.

Jurnalis Bisnis Indonesia itu langsung tancap gas ke RSPI Sulianti Saroso di Jakarta Utara sekitar pukul 9.00 WIB pada Minggu (15/3/2020). Setiba di sana, petugas memintanya mengisi formulir biodata diri.

Biasanya, isian formulir akan menentukan apakah seseorang langsung dibolehkan pulang atau lanjut ke tahapan observasi.

Dafi juga ditanya perihal aktivitas selama 14 hari terakhir. Selain berjumpa Menbub, dia mengaku mengalami gejala sesak napas. “Yaudah langsung diobservasi ke IGD oleh petugas,” ceritanya.

Sarjana Jurnalistik Universitas Padjadjaran ini hanya menjalani pemeriksaan melalui tes darah. Dia turut diperiksa menggunakan stetoskop, dilakukan tensi darah dan mengecek kadar oksigen dalam tubuh.

Hasilnya, leukosit dalam darah pria ini tak dihinggapi bakteri. Umumnya, saat imun seseorang diserang virus, maka leukosit akan bereaksi. Kendati begitu sel darah putihnya menunjukkan adanya virus dengan volume kecil.

“Biasa bisa virus apapun termasuk influenza. Kata dokter kalau angkanya segini [kecil] cuma flu kemungkinan,” katanya berdasarkan keterangan dokter.

Tak ada pemeriksaan rontgen, apalagi swab untuk memastikan secara detail apakah dia terjangkit virus itu atau tidak. Dokter berdalih ruang radiologi tempat alat rontgen berada telah terpapar pasien dalam pengawasan (PDP). Adapun swab tak diizinkan selama tidak mengantongi rekomendasi dokter.

Di akhir pemeriksaan dan membayar sekitar Rp200.000, dokter memutuskan Dafi harus melakukan isolasi mandiri. Dia ditetapkan sebagai Orang Dalam Pemantauan.

Tahu kondisinya tak baik, Dafi buat persiapan isolasi selama dua pekan penuh. Keperluan makanan selama minimal sepekan dibeli di supermarket. Mie instan, cemilan, roti keju, chicken nugget, ayam ungkep sampai sabun mandi dipersiapkan.

Isolasi ini tak melibatkan istrinya. Dafi berujar, istrinya lebih aman jika tak berada di dekatnya sementara waktu.

“Masalahnya istri gue kan lagi hamil, yaudah dia di rumah orang tua aja dulu,” tuturnya.

Selama menjadi ODP, Dafi tetap mengirimkan laporan ke redaksi. Sumbernya mengandalkan video streaming Sekretariat Kepresidenan. Tergolong monoton, namun menurutnya cara kerja seperti itu lebih menegangkan dibandingkan dengan biasanya. Dia harus beradu kecepatan dan ketepatan dengan media lain dengan streaming sebagai sumber utama.

Lainnya, pekerjaan rumah diselesaikan sendiri termasuk masak dan mencuci piring.

Sepekan dikarantina, Dafi tak mengalami gejala apapun. Tiap hari dia juga mengonsumsi madu, multivitamin sampai obat herbal. “Rencananya nanti periksa lagi sekitar tanggal 25 Maret,” tuturnya.

Dafi tidak sendiri. Rinaldi Mohammad Azka yang akrab disapa Azka mengalami kondisi serupa. Pos liputan hariannya berada di Kementerian Perhubungan. Perjumpaan dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tak terelakkan.

Azka menjalin diskusi secara online bersama kuli tinta lain, yang juga rutin mewawancarai Budi Karya. Dia lebih memilih memeriksa diri di RSPI Sulianti Saroso, usai mendengar pengalaman temannya yang sempat ditelantarkan saat melakukan pemeriksaan.

Pemeriksaan di RSPI Sulianti Saroso dilakukan pada siang hari, hasil pemeriksaan kesehatan Azka selesai beberapa jam kemudian. Kini Azka berstatus seperti Dafi yang tercatat sebagai ODP.

Pulang ke apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, Azka memilih mengisolasi diri bersama istri dan bayinya. Cara ini menurutnya adalah langkah terbaik. Mereka sepakat tak ingin menjadi penyebar atau carrier penyakit ke orang lain.

“Kita bertiga saja yang mengisolasi. Istri [dan anak] juga ikut [isolasi] selama 14 hari ke depan,” ujarnya.

Azka tetap menjalankan tugasnya sebagai jurnalis semasa karantina. Proses perolehan berita katanya cuma, mengandalkan ponsel atau laptop. Bagaimanapun, dia tak mau ambil risiko meliput ke lapangan.

“Ternyata membosankan,” terangnya.

Selama proses ini, Azka dan istri enggan membeli makanan siap saji di luar. Masakan sendiri dinilai lebih meyakinkan dibanding jajanan luar.

Adapun masa karantina dijalankan dengan disiplin. Mereka rajin mengonsumsi multivitamin, sari kurma sampai minuman herbal. Semua usaha dilakukan. Asalkan ancaman virus lekas pergi.

Dari pengalamannya, Azka tak mau terlalu berharap pada pemerintah. Melihat penanganan rumah sakit dan kondisi petugas medis, para ODP secara tak langsung dituntut mengerti penanganan diri saat diwajibkan karantina. Tak bisa berharap banyak dari pemerintah.

“Kita yang harus sadar sendiri, pemerintah juga tidak mengawasi para ODP terus menerus. Kecuali di media.”

Pada Senin (23/3/2020), Azka mendapatkan pesan melalui Whatsapp dari Puskesmas Kebagusan. Pengirim pesan memperkenalkan diri sebagai pendamping dan meminta Azka untuk mendeskripsikan kondisi kesehatan mulai dari suhu hingga kondisi saluran pernapasan.

Ada perasaan lega yang dirasakan Azka, saat seorang pihak medis dari puskesmas bersedia menerima keluhan fisiknya selama masa karantina di rumah.

***

Awak media termasuk kalangan paling rentan terjangkit wabah ini. Mereka saban hari meliput dan bertemu banyak orang termasuk pejabat yang terjangkit wabah. Tak heran Dewan Pers sejak awal mewanti-wanti perusahaan media menjaga keselamatan jurnalisnya.

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh sejak 3 Maret 2020 telah meminta perusahaan media memastikan keselamatan awaknya selama liputan virus Corona. Langkah ini agar jurnalis lapangan tidak menimbulkan masalah baru seperti terjangkit virus saat bertugas.

Media juga dituntut tetap memegang prinsip kode etik jurnalistik seperti pemberitaan akurat, berimbang, menguji informasi, tidak beritikad buruk dan proporsional. Di sisi lain, jurnalis dianjurkan tak meliput isu ini secara berlebihan dan terus memperhatikan kepentingan publik.

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) bahkan memberikan 19 poin panduan lengkap untuk anggotanya selama meliput Covid-19. Secara garis besar, organisasi ini menitikberatkan pada upaya mitigasi dalam peliputan.

Beberapa diantaranya pemetaan potensi penularan, mengikuti protokol kesehatan, sterilisasi alat dan kelengkapan liputan, menghindari kawasan diduga terinfeksi, serta menggunakan alat pelindung diri.

Jurnalis yang memiliki gejala mirip Covid-19 diwajibkan melapor untuk dirujuk ke rumah sakit. Perusahaan media juga dituntut memastikan kebutuhan perlengkapan untuk perlindungan diri seperti masker dan cairan pembersih tangan tersedia.

Senada, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta juga mengeluarkan protokol bagi anggotanya. Pertama, analisis risiko kesehatan sebelum liputan; kedua, memastikan ketersediaan alat pelindung diri; ketiga, membatasi kontak langsung; dan terakhir meminta tanggung jawab perusahaan terhadap keamanan para jurnalis di lapangan.

Kendati membosankan, perusahaan media diharapkan membuka peluang bagi wartawan untuk bekerja dari rumah, menghindari penyakit mematikan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jurnalis foto Virus Corona covid-19
Editor : Novita Sari Simamora
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top